Kamis, 12 Desember 2013

Cinta yang Tulus

Kamu egois. Selalu mementingkan diri sendiri. Kamu menyuruhku untuk ini dan itu, aku tidak mengeluh. Tapi kenapa sedikit saja kesalahanku selalu kamu permasalahkan? Aku lelah, bukan berarti aku menyerah.
Aku ingin kamu dengan sejuta kenangan manis kita. Kita saling mencintai, ‘kan?
Lalu, kenapa hanya aku yang berlari?
Kenapa hanya aku yang melindungimu dengan sejuta pisau mengahantam punggungku?
Kamu begitu tidak peduli padaku, walaupun aku tahu, diam-diam kamu memperhatikanku. Aku tahu, dan aku ingin kamu menunjukkannya, tidak hanya dalam diam saja.
Apa aku harus pergi terlebih dahulu, agar kamu tahu mengenai perasaanku?
Apa aku harus menjauh dan mengindar?
Apa aku harus berhenti berlari mengejar yang tidak pasti?
Aku tidak sanggup, karena aku.. mencintai kamu. Tidak ada yang lebih indah dari suara tawamu. Tidak ada yang lebih indah melihatmu senyum bahagia. Tidak ada yang lebih indah didunia ini selain tentang kamu. Tentang kita dan kenangan kita. Tapi, aku lelah hanya memperhatikanmu tertawa, tersenyum tanpa bisa menjadi pelaku dibalik semuanya.
Aku meringis ketika menyadari seberapa banyak kita tertawa bersama, dapat dihitung dengan jari.
Kenapa?
Apakah karena kita saling membahagiakan dalam diam?
Atau karena kita yang tidak bisa saling menunjukkan?
Aku mengerti..
Tanpa kata, kita dapat saling berbicara. Tanpa tidakan, kita saling mengerti. Dan itu karena kekuatan cinta tulus kita. Dan aku pahami, tidak ada yang lebih indah selain itu.