Kamis, 06 Juli 2017

Cinta Monyet

Aku menyusuri tepian pantai dengan ombak yang melambai dengan kamera di tanganku. Mencoba untuk mencari spot yang enak untuk membidik indahnya ciptaan Tuhan. Aku mengangkat kameraku ke depan mataku.

Klik!

Satu gambar tersimpan dalam memory kameraku.

Aku melihat kembali hasil jepretanku. Hm, lumayan.

Terus saja aku melakukan hal yang sama. Berjalan, berhenti dan membidik kameraku. Memory kamera milikku pun sudah terisi banyak hasil jepretan di berbagai angle.

Aku merasakan seseorang menepuk pundakku ketika aku sedang asyik melihat hasil jepretanku. Aku berbalik dan menemukan seorang laki-laki sedang tersenyum padaku. Aku terkejut ketika mendapati Eden berada tepat di depanku.

"Hai, Nath."

Aku tersenyum. "Hai, Eden. Apa kabar?"

"Baik. Gimana dengan kamu?"

"Aku juga baik. Eh, yuk, duduk di situ biar lebih enak ngobrolnya." ajakku kepada Eden.

"Kamu sekarang sibuk apa?" tanya Eden ketika kami sampai di sebuah bangku pantai yang menjadi tempat duduk kami sekarang.

"Aku sibuk motret aja sekarang. Kalau kamu? You look different." kataku sembari tertawa renyah.

Eden ikut tertawa mendengar perkataanku. "Kamu juga semakin cantik, Nath. Kalau aku sibuk ngurus usaha kecil-kecil saja sekarang. Lumayan buat modal nikah."

"Kamu sudah mau nikah? Wah, kenalin calonnya, dong!"

"Calonnya belum ada. Kepinginnya sih kamu." Kelakarnya sambil tertawa. 

Aku memaksakan sebuah tawa di wajahku. Aku merasakan sudut hatiku tumbuh sebuah perasaan yang sudah aku tanam dari dulu, yang kembali muncul akibat perkataan Eden. 

Aku menguatkan hatiku. Mengucap nama Jonas berulang kali. Alamat CLBK kalau begini! 

Bantu hamba, Ya Tuhan. 

"Kamu masih seperti dulu, ya? Suka bercanda." kataku berusaha mencairkan suasana. 

"Siapa bilang aku bercanda, Nath?"

Aku meringis. "Eden, tolong jangan begini."

Aku mentap mata Eden. Berusaha menyampaikan sejuta perasaan yang ada di hatiku. 

Perasaan senang karena bertemu dengannya setelah sekian tahun tidak mendengar kabarnya. 

Perasaan kecewa kenapa Eden baru mendatangiku. Bukan mencariku sejak dulu, bila yang dikatakannya adalah benar. 

Dan sedih, karena statusku dan hatiku yang sudah dipenuhi oleh orang lain. Orang lain yang merupakan sahabatnya. 

"Nath, kamu tahu?" Eden mengalihkan tatapannya dariku ke arah ombak pantai yang saling belarian. "Dulu aku kepingin banget ngajak kamu ke pantai. Dan aku senang, keinginanku terwujud. Meskipun dengan kita yang bertemu secara kebetulan."

"Kamu pernah berpikiran untuk mengajakku? Untuk apa?"

"Aku suka pantai. Aku pingin kamu juga menyukai hal yang aku sukai, Nath."

Mungkin, jika Eden mengatakannya bertahun-tahun yang lalu, aku akan merasa senang dan berbunga-bunga. 

Tapi tidak dengan sekarang. 

Ini salah, semua salah. Seharusnya aku tidak berbaik hati mengajak Eden berbicara. Seharusnya aku juga lebih berpikir panjang untuk bertemu 'teman lama'. Demi Tuhan, aku takut setan-setan yang berkeliaran ini mampu mempengaruhiku. 

"Aku bukan siapa-siapa kamu. Aku enggak berhak untuk itu."

Eden tertawa, tetapi aku dapat mendengar nada sumbang dalam tawanya. 

"Nath, seandainya aku tidak terlambat, apa kamu akan menjadi milikku?"

Eden sialan! 

Pertanyaan macam apa itu? 

Jujur saja, mungkin jika Eden mengutarakan perasaannya lebih dulu padaku, kami tak akan seperti ini. Kami akan bersama dan menjalin kisah yang selalu kami gadang-gadang di masa lalu. Betapa indahnya harapan kami saat itu. 

Atau mungkin jika aku tak bersama Jonas, aku dan Eden akan bertemu di masa depan dan kemudian bersama. Merangkai kembali kenangan masa lalubyang sempat terputus. 

Tapi tidak. Aku percaya takdir. 

Mungkin jika dulu Eden tidak terlambat, di masa depan kami akan berakhir dan aku akan memulai hubungan dengan Jonas. 

Atau, seperti sekarang ini. Dari dulu hingga sekarang, aku tetap bersama Jonas. Bukan Eden. 

"Aku enggak tahu, Eden." ucapku kepada Eden. "Tapi satu hal yang aku tahu, kita seperti ini adalah takdir. Meskipun kita bersama, aku akan tetap bersama Jonas. Karena takdirku bersama Jonas bukan kamu, Eden."

Lagi lagi, Eden tertawa dengan nada sarat akan kesedihan. 

"Aku menyesal kenapa dulu, ketika Jonas menyuruhku berhenti, aku malah menurutinya. Bukan memperjuangkanmu."

Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pembicaraan ini. Aku sudah berada pada posisi tidak nyaman. Coba bayangkan, nyamankah berbicara masa lalu dengan masa lalumu sedangkan statusmu adalah calon istri dari sahabat masa lalumu itu? 

Duh, bunuh saja adek, bang! 

Tapi, mungkin ini memang waktunya. Kami harus menyelesaikan masalah yang seharusnya sudah usai sejak dulu. Tapi terhalang oleh ego dan perasaan kami. 

"Nath, aku enggak sanggup untuk kehilangan kamu lagi."

"Stop, Eden! Dari dulu sampai sekarang begitu juga nanti, kita tidak ada apa-apa. Kita cuma 'teman lama' yang kebetulan bertemu. Jangan berbicara seolah-olah kita mempunyai masa lalu yang indah!" kataku tegas. 

"Kamu lupa, Nath, kalau kita sering bercanda dan menghabiskan banyak waktu bersama? Kita mengerjakan tugas bersama dan bahkan selalu berada di kelompok belajar yang sama." balas Eden dengan nada pilu. "Aku rela jadi yang ke dua di hati kamu asal kita bisa mengulang masa itu, Nath."

Aku menggeleng. 

Eden sudah gila! 

Bagaimana bisa ia berbicara seperti itu. Demi Tuhan, acara pernikahanku dengan Jonas sudah di depan mata. Dan dia, datang setelah sekian lama menghilang, memintaku untuk menerimanya sebagai selingkuhan? Fix, dia sudah gila!  Benar benar gila!

"Iya! Aku memang gila, Nath." ucap Eden dengan suara parau. "Aku gila semenjak kamu milih Jonas dibanding aku. Jonas sahabat aku, Nath! Bagaiman bisa kamu sejahat itu padaku?"

Sudut hatiku teremas. Duh, ngilu. 

Kalau saja Eden lebih terbuka padaku dulu, aku tak akan ragu untuk menunggunya sampai Eden menyatakan perasaan. Tapi apalah daya, Eden dulu terlihat cuek dan hanya menganggap aku tidak lebih dari temen. Membuat hatiku yanng kala itu ingin sembuh dari rasa sakitnya, menerima Jonas dengan segudang kenyamanan dan kebaikan hatinya. 

Yang dicintai akan kalah dengan yang selalu ada, benar 'kan? 

Karena cintaku kepada Eden kalah dengan kepastian yang ditawarkan oleh Jonas. 

"Aku minta kamu berhenti sekarang, Eden. Enggak akan ada lagi yang perku kita lanjutkan karena dari dulu kita enggak pernah memulai. Kamu yang memilih untuk mundur dulu."

Eden menatapku dengan pilu. Aku balas menatapnya. Entah kenapa, hatiku merasa bersalah melihat tatapannya. Seolah akulah di sini si pelaku kejahatan. 

"Jadi, aku harus berhenti sekarang, ya?"

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Mengalihkan tatapanku darinya, berusaha membuat diriku tidak merasa semakin bersalah lagi. Dalam hati, aku merutuki pertemuan ini. 

Ingin mengakhiri pertemuan kami ini, aku bangkit berdiri dan membersihkan bagian belakang bajuku. Sudah cukup. Masalah kami sudah selesai. Dan tidak akan ada lanjutan dari kisah ini. Biarlah penyesalan menjadi pembelajaran bagi kami, bahwa kesempatan hanya datang sekali. Dan bahwa cinta tidak cukup untuk menjadi kedua anak manusia menjadi kuat. 

"Aku rasa masalah kita sudah selesai. Aku pamit dulu." kataku sebelum beranjak meninggalkan Eden yang masih duduk di bangku pantai. 

"Nath," panggil Eden ketika aku sudah beranjak tiga langkah dari tempatnya. Aku berbalik, menaikan sebelah alisku. "Apa dulu kamu pernah mencintaiku?"

Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. "I did."

Setelah mengatakan itu, aku melanjutkan langkahku. Mungkin dulu kami pernah melakukan kesalahan dengan tidak jujur akan perasaan kami masing-masing. Tetapi untuk seterusnya aku menjanjikan hatiku hanya untuk Jonas dan memastikan bahwa Jonas pun begitu. Semoga Eden dapat melupakanku dan mendapatkan perempuan yang seribu kali lebih baik dari aku. 

Ini ceritaku, apa ceritamu? 


Senin, 16 Mei 2016

Kenapa Aku?

Aku menatap lama wajahnya yang tengah asik dengan film di latopnya itu. Wajahnya memang tidak tampan. Alis tipis yang menaungi mata sipitnya yang akan membentuk bulan sabit ketika tertawa. Bibir tebal yang sering kali mencebik kesal ketika keinginannya tidak tersampaikan. Dan tatapan teduh yang selalu bisa membuatku merasa pulang ke ‘rumah’.
Sudah lima tahun, dan tidak  ada yang berubah. Rasanya perjalanan kisah kami sudah cukup panjang bagi orang lain, tapi tidak bagi kami. Perjalanan kami masih jauh, masih banyak bebatuan yang harus kami lewati. Masih banyak badai yang harus kami terjang bersama. Dan rasanya semuanya tidak semudah yang terlihat.
Cemburu, kesal, kecewa, terluka dan lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari.
Dia, Joshua Theodorus, lelaki populer yang sering digandrungi perempuan. Banyak adik kelas yang dengan senang hati berdekatan dengannya. Banyak perempuan yang ingin berteman dengannya.
Dan aku, Nayla Danisa Putri, perempuan pendiam yang bahkan tak dikenal oleh murid sekolahku sendiri. Dikenal pun karena tittle-ku sebagai pacar Joshua.
Joshua merupakan seorang atlet basket di sekolah. Tentu saja hal itulah yang membuatnya dikenal oleh banyak.
Tidak ada yang tahu, rasanya menjadi kekasih seorang Joshua. Cemburu yang harus ditekan sedalam-dalamnya melihat banyak perempuan senang mencari perhatiannya, kesal karena merasa terabaikan hingga sedih karena sedikitnya waktu yang bisa kami habiskan bersama.
Kadang aku bingung, kenapa ia memilihku diantara banyak perempuan di luar sana yang pastinya jauh lebih baik dari pada diriku.
Aku bertanya padanya, “kenapa aku?”
“Kenapa kamu? Bisa kamu jelaskan apa maksudnya?”
“Maksudku, kenapa aku yang kamu pilih?”
Sejenak ia menatapku heran, “loh, emang kenapa jika aku memilih kamu?”
Aku merengut kesal dengan pertanyaanku yang dijawab dengan pertanyaan kembali olehnya. “kamu ‘kan terkenal, semua orang tahu kamu. Banyak juga yang diam-diam jadi penggemar kamu. Dan pastinya, mereka jauh lebih baik dari aku,” aku meliriknya sejenak. “kenapa kamu tetap milih aku diantara banyak  perempuan yang bersedia untuk berdekatan dengan kamu?”
Joshua mengangkat bahunya cuek, ia tidak peduli soal perempuan lain yang rasanya sedikit menganggu kehidupan sehari-harinya. Risih, jika kalian ingin tahu.
“Jangan tanyakan padaku, Nayla, jelas aku tidak tahu alasannya.”
“Lalu aku harus bertanya pada siapa, jika bukan pada kamu?” ucapku sedikit kesal padanya.
Joshua berpaling dari laptop di hadapannya. Ia memutar tubuhnya dan kini kami saling berhadapan satu sama lain. Ia menatapku dengan mata teduhnya itu, “tanyakan pada hatiku, kenapa ia mau terjebak dalam hati yang selalu merasa dirinya tak pernah pantas untuk dicintai.”
Pipiku bersemu merah mendengar jawabannya. Aku tak menyangka Joshua akan menjawab dengan jawaban seperti itu. Aku kira, ia akan mendiamkanku seperti sebelumnya, ketika aku bertanya hal yang sama padanya.
Joshua sudah berbalik badan dan kembali menonton di alptopnya. Mungkin baginya, jawabannya hanyalah jawaban tentang apa yang  terpikir olehnya tapi tidak untukku. Rasanya, ada secerca harapan untuk hatiku menjadi lebih kuat lagi, lebih dalam lagi untuk mecintainya.
Dan hati ini sudah siap untuk menghadapi badai yang akan mempora-porandakan setiap perjuangan yang ada.
Dan tanpa Joshua sadari, senyum haru terbit begitu saja di wajahku.

Jumat, 24 Januari 2014

Tentang Aku dan Kamu

Ketika cinta memilih bertahan
Ketika luka tak pernah sembuh dan berbekas
Ketika sakit, perih terasa

Aku dan kamu terus bersama
Tapi, tak akan pernah menjadi 'kita'
Tak akan pernah berpelukan

Karena disini, hanya aku yang berlari
Dengan kamu yang menunggu diujung jalan

Tanpa menoleh
Ataupun memberi tangan untuk diulurkan

Salahkah?
Salahkah jika hatiku memilih untuk bertahan?
Dan terus berharap akan adanya 'kita'?

Kamis, 12 Desember 2013

Cinta yang Tulus

Kamu egois. Selalu mementingkan diri sendiri. Kamu menyuruhku untuk ini dan itu, aku tidak mengeluh. Tapi kenapa sedikit saja kesalahanku selalu kamu permasalahkan? Aku lelah, bukan berarti aku menyerah.
Aku ingin kamu dengan sejuta kenangan manis kita. Kita saling mencintai, ‘kan?
Lalu, kenapa hanya aku yang berlari?
Kenapa hanya aku yang melindungimu dengan sejuta pisau mengahantam punggungku?
Kamu begitu tidak peduli padaku, walaupun aku tahu, diam-diam kamu memperhatikanku. Aku tahu, dan aku ingin kamu menunjukkannya, tidak hanya dalam diam saja.
Apa aku harus pergi terlebih dahulu, agar kamu tahu mengenai perasaanku?
Apa aku harus menjauh dan mengindar?
Apa aku harus berhenti berlari mengejar yang tidak pasti?
Aku tidak sanggup, karena aku.. mencintai kamu. Tidak ada yang lebih indah dari suara tawamu. Tidak ada yang lebih indah melihatmu senyum bahagia. Tidak ada yang lebih indah didunia ini selain tentang kamu. Tentang kita dan kenangan kita. Tapi, aku lelah hanya memperhatikanmu tertawa, tersenyum tanpa bisa menjadi pelaku dibalik semuanya.
Aku meringis ketika menyadari seberapa banyak kita tertawa bersama, dapat dihitung dengan jari.
Kenapa?
Apakah karena kita saling membahagiakan dalam diam?
Atau karena kita yang tidak bisa saling menunjukkan?
Aku mengerti..
Tanpa kata, kita dapat saling berbicara. Tanpa tidakan, kita saling mengerti. Dan itu karena kekuatan cinta tulus kita. Dan aku pahami, tidak ada yang lebih indah selain itu.

Jumat, 01 November 2013

Kamu yang Mengisi Hatiku

Aku mencintaimu dengan tulus
Yang hanya kau balas dengan air mata dipipiku
Aku berusaha menjadi yang kau mau
Tetapi kau menuntut lebih

Sebesar apa pun aku mencoba
Kau tetap memakiku
Sebesar apa pun aku bertahan
Aku tetap goyah, tidak ada penyangga

Aku melindungimu dengan kesetiaan
Yang kau hargai dengan penghianatan
Tiada sedikit pun penyesalan disetiap rentetan katamu

Kau bagaikan racun dan madu disaat yang bersamaan
Yang membunuh dan pemanis diwaktu yang bersamaan

Terkadang, aku lelah untuk penantian beriring dengan berubah menjadi yang kau mau
Aku lelah, karena hanya aku yang berlari
Dan aku lelah, karena hanya aku yang memperjuangkan

Minggu, 06 Oktober 2013

Luka

Jangan ada benci
Ataupun caci
Jangan ada tangis
Ataupun isakan

Lalu kini, kenapa masih saja ada air mata?
Kita hanya mengatahui, tidak mengenal

Lalu kamu hanya bisa merebut tempat dihatiku
Menjadikannya tempat ternyaman milikmu
Dengan mengisi dengan tinta luka
Menggoreskannya sesuka hatimu
Seakan hal itu, membuat senyummu merekah
Membiarkan aku bertahan demi semuanya
Demi kesetiaan
Demi ketulusan
Dan demi cinta...

Senin, 19 Agustus 2013

Perbedaan

Bagi setiap orang, pasti perbedaan adalah suatu penghalang dalam hubungan. Perbedaan seakan menjadi tembok baja, yang menghalangi jalan. Perbedaan seakan membuat jalan yang mulus, malah berakhir buntu. 'Lalu, mengapa selalu ada perbedaan diantara setiap hubungan?'
Dulu, seorang temanku, pernah mencurahkan kisahnya padaku mengenai 'perbedaan'. Dulu, aku masih terlalu dini untuk mengerti apa itu perbedaan. Namun, entah darimana, aku mempelajarinya sendiri. Aku cukup belajar dari beberapa teman dekatku, yang sering menceritakan, betapa 'perbedaan' itu, seakan menjadi penghalang dikehidupan mereka.
Aku sedikit tidak setuju, jika, 'perbedaan' menjadi  penghalang. Bukan berarti aku menyukai perbedaan. Malah, dengan perbedaan, aku belajar apa yang disebut dengan kasih sayang yang tulus.
Kita ambil saja contoh dari hal yang sederhana. Ayah dan Ibu kita tentu memiliki perbedaan dengan diri kita masing-masing, sekali pun Ayah dan Ibu adalah orang tua kita. Dari segi usia, watak, dan pemikiran tentu berbeda. Bukankah denngan perbedaan kita bisa saling berbagi, meghargai, dan menghormati? Setiap hal kecil yang Tuhan ciptakan, selalu mempunyai maksud. Perbedaan diciptakan Tuhan, agar kita tidak hidup dengan persamaan. Andai kata, perbedaan adalah pewarna dalam hidup. Jika, hanya ada persamaan, maka hidup akan hanya berisi hitam dan putih.
Seseorang yang sedang mencurahkan isi hatinya, berkata kepadaku, "Aku tidak ingin ada perbedaan di dunia ini!" kata-katanya begitu tegas terdengar ditelingaku kala itu. Aku hanya tersenyum, membelai rambut hitam sebahu milik teman dekatku ini.
"Kalau tidak ada perbedaan, kamu tidak akan menangis dan mengadu padaku pada saat ini."
Dia terdiam, membenarkan ucapanku. Teman dekatku ini, sedang dilema, atau sebut saja 'galau'. Ia bingung untuk memilih, antara melanjutkan hubungannya yang dengan perbedaan, atau memilih mundur dan mengakhiri semuanya. Hubungan yang telah dirajut oleh teman dekatku ini, memang terbilang cukup lama. Bahkan kekasihnya saja, sudah mempunyai rencana jika lulus sekolah nanti, akan langsung melamarnya. Namun, Tuhan berkata lain. Perbedaanlah yang memisahkan mereka. Perbedaan akan keyakinan yang membuat kedua manusia ini, tidak dapat menjadikan 'aku dan kamu = kita'. Kedua keluarga keberatan, dan keukeuh terhadap keyakinan masing-masing. Perbedaan menjadikan jalan masa depan ‘mereka’ seakan buntu. Ia dan kekasihnya memang saling menyayangi.
“Kamu tahu?” aku kembali mengeluarkan suaraku, “Hidup tanpa perbedaan itu tidak seimbang.”
Teman dekatku itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti akan jalan pembicaraanku. Aku berusaha menahan kekehanku, ketika melihat wajah kebingungannya.
“Contohnya saja kamu. Jika, kamu dan kekasihmu bersatu dalam keyakinan yang berbeda, bukankah itu mempersulit hubunganmu dengan dirinya? Kamu tidak akan leluasa menceritakan masalah yang tengah kamu hadapi. Kamu pasti akan merasakan ada tembok yang menjadi batasanmu. Dan, kamu tidak bisa melaksanakan ibadah bersama. Namun, dengan perbedaan itu, kita bisa belajar untuk menghargai keyakinan satu sama lain. Benar bukan?”
Aku menoleh kearahnya. Ia hanya terdiam mencera setiap kata yang kulontarkan. “Pebedaan itu ada, bukan untuk dimusuhi. Tapi, berdamailah. Jadikan perbedaan teman yang bisa kamu terima. Soal jodoh, memang ditangan Tuhan, tapi kita yang menentukan dan Tuhan yang merestui. Kamu berdoalah, katakana pada Tuhan, lelaki seperti apa yang kamu minta. Lalu, carilah yang pantas. Dan katakana ‘Dialah orangnya, Tuhan.’, ketika kamu sudah menemukan yang sesuai dengan keinginanmu. Maka, Tuhan akan melihat, jodoh itu pantas atau tidak untukmu. Mungkin saja kamu dengan dia belum berjodoh. Tuhan memang memberikan perbedaan, namun, perbedaan yang dapat kamu lengkapi.”
Ketika aku mengucapkan rentetan nasihat tersebut, teman dekatku itu memelukku. “Terimaksih. Kamu menyadarkanku.”
Aku tersenyum. Perbedaan memang selalu diciptakan. Tidak ada manusia yang sempurna, maka dari itu adanya perbedaan. Jangan menghindari perbedaan, karena tidak selamanya persamaan itu, apa yang kamu butuhkan. Dan Tuhan, akan mempertemukan kamu dengan perbedaan yang dapat kamu isi dan lengkapi, sehingga menjadi sempurna.