Bagi setiap orang, pasti perbedaan adalah suatu penghalang dalam hubungan.
Perbedaan seakan menjadi tembok baja, yang menghalangi jalan. Perbedaan seakan
membuat jalan yang mulus, malah berakhir buntu. 'Lalu, mengapa selalu ada
perbedaan diantara setiap hubungan?'
Dulu, seorang temanku, pernah mencurahkan kisahnya padaku mengenai
'perbedaan'. Dulu, aku masih terlalu dini untuk mengerti apa itu perbedaan.
Namun, entah darimana, aku mempelajarinya sendiri. Aku cukup belajar dari
beberapa teman dekatku, yang sering menceritakan, betapa 'perbedaan' itu,
seakan menjadi penghalang dikehidupan mereka.
Aku sedikit tidak setuju, jika, 'perbedaan' menjadi penghalang. Bukan
berarti aku menyukai perbedaan. Malah, dengan perbedaan, aku belajar apa yang
disebut dengan kasih sayang yang tulus.
Kita ambil saja contoh dari hal yang sederhana. Ayah dan Ibu kita tentu
memiliki perbedaan dengan diri kita masing-masing, sekali pun Ayah dan Ibu
adalah orang tua kita. Dari segi usia, watak, dan pemikiran tentu berbeda.
Bukankah denngan perbedaan kita bisa saling berbagi, meghargai, dan
menghormati? Setiap hal kecil yang Tuhan ciptakan, selalu mempunyai maksud.
Perbedaan diciptakan Tuhan, agar kita tidak hidup dengan persamaan. Andai kata,
perbedaan adalah pewarna dalam hidup. Jika, hanya ada persamaan, maka hidup
akan hanya berisi hitam dan putih.
Seseorang yang sedang mencurahkan isi hatinya, berkata kepadaku, "Aku
tidak ingin ada perbedaan di dunia ini!" kata-katanya begitu tegas
terdengar ditelingaku kala itu. Aku hanya tersenyum, membelai rambut hitam
sebahu milik teman dekatku ini.
"Kalau tidak ada perbedaan, kamu tidak akan menangis dan mengadu padaku
pada saat ini."
Dia terdiam, membenarkan ucapanku. Teman dekatku ini, sedang dilema, atau
sebut saja 'galau'. Ia bingung untuk memilih, antara melanjutkan hubungannya
yang dengan perbedaan, atau memilih mundur dan mengakhiri semuanya. Hubungan
yang telah dirajut oleh teman dekatku ini, memang terbilang cukup lama. Bahkan
kekasihnya saja, sudah mempunyai rencana jika lulus sekolah nanti, akan
langsung melamarnya. Namun, Tuhan berkata lain. Perbedaanlah yang memisahkan mereka.
Perbedaan akan keyakinan yang membuat kedua manusia ini, tidak dapat menjadikan
'aku dan kamu = kita'. Kedua keluarga keberatan, dan keukeuh terhadap keyakinan masing-masing. Perbedaan menjadikan
jalan masa depan ‘mereka’ seakan buntu. Ia dan kekasihnya memang saling
menyayangi.
“Kamu tahu?” aku kembali mengeluarkan suaraku, “Hidup tanpa perbedaan itu tidak seimbang.”
Teman dekatku itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti akan jalan
pembicaraanku. Aku berusaha menahan kekehanku, ketika melihat wajah
kebingungannya.
“Contohnya saja kamu. Jika, kamu dan kekasihmu bersatu dalam keyakinan yang
berbeda, bukankah itu mempersulit hubunganmu dengan dirinya? Kamu tidak akan
leluasa menceritakan masalah yang tengah kamu hadapi. Kamu pasti akan merasakan
ada tembok yang menjadi batasanmu. Dan, kamu tidak bisa melaksanakan ibadah
bersama. Namun, dengan perbedaan itu, kita bisa belajar untuk menghargai
keyakinan satu sama lain. Benar bukan?”
Aku menoleh kearahnya. Ia hanya terdiam mencera setiap kata yang kulontarkan.
“Pebedaan itu ada, bukan untuk dimusuhi. Tapi, berdamailah. Jadikan perbedaan
teman yang bisa kamu terima. Soal jodoh, memang ditangan Tuhan, tapi kita yang
menentukan dan Tuhan yang merestui. Kamu berdoalah, katakana pada Tuhan, lelaki
seperti apa yang kamu minta. Lalu, carilah yang pantas. Dan katakana ‘Dialah
orangnya, Tuhan.’, ketika kamu sudah menemukan yang sesuai dengan keinginanmu.
Maka, Tuhan akan melihat, jodoh itu pantas atau tidak untukmu. Mungkin saja
kamu dengan dia belum berjodoh. Tuhan memang memberikan perbedaan, namun,
perbedaan yang dapat kamu lengkapi.”
Ketika aku mengucapkan rentetan nasihat tersebut, teman dekatku itu
memelukku. “Terimaksih. Kamu menyadarkanku.”
Aku tersenyum. Perbedaan memang selalu diciptakan. Tidak ada manusia yang
sempurna, maka dari itu adanya perbedaan. Jangan menghindari perbedaan, karena
tidak selamanya persamaan itu, apa yang kamu butuhkan. Dan Tuhan, akan mempertemukan kamu dengan perbedaan yang dapat kamu isi dan lengkapi, sehingga menjadi sempurna.
Senin, 19 Agustus 2013
Jumat, 02 Agustus 2013
Kita Sahabat, bukan?
"Kita sahabat, bukan?"
Kalimat itu menjadi makanan sehari-hari hubungan aku dan kamu. Kalimat yang memperjelas betapa eratnya ikatan antara aku dan kamu.
Hampir setiap waktu, aku dan kamu menghabiskan dengan bercenda gurau, berbagi keluh dan kesah. Tak ayal jika jarak antara aku dan kamu, lengket seperti lem. Bahkan banyak diantara orang-orang sekitar mengira jika aku dan kamu adalah anak yang terlahir kembar. Kamu bahkan sering menghabiskan malam dengan berada di rumahku, begitupun sebaliknya. Aku sering sekedar untuk mengajakmu menonton DVD terbaru yang baru saja kubeli. Aku dan kamu membuat janji untuk hidup selalu bersama. Tapi, apakah aku dan kamu akan terus seperti ini?
Pertanyaan itu terjawab, ketika kamu memiliki kekasih baru. Kini, kita tidak lagi menghabiskan waktu 'berdua' melainkan 'bertiga', dengan dia, kekasihmu. Bahkan tidak ada lagi jalan berdua, melainkan bertiga. Tidak ada lagi waktu yang kita habiskan hanya untuk berbagi cerita. Kini, hanya ada kamu dan dia, tersisa aku sendiri dibalik punggungnya. Aku hanya dapat menunggu untuk kamu menoleh sejenak, hanya sejenak. Lama-kelamaan, aku lelah. Aku lelah hanya berada dibalik punggungnya, dan aku memilih mundur dari persahabatan ini. Aku tidak memiliki harapan atas ini, persahabatan aku dan kamu kini tinggal kenangan dan nama saja. Kini, aku sudah mulai terbiasa dengan 'kesendirian', meskipun, hampa yang kurasakan.
Tiba-tiba, kamu hadir kembali. Muncul di depan pintu rumahku dengan air mata yang membasahi wajahmu. Tanganku tak kuasa untuk menghapus air matamu. Kupeluk kamu dalam dekapan hangat seperti dulu. Kamu menangis terisak dengan hebatnya, menceritakan betapa sakitnya hatimu disakiti oleh kekasih yang kamu sayangi. Kini, kamu pun ikut merasakan sakitnya hatiku. Kata maaf beribu kali terlontar dari mulutmu, yang tentu saja, kujawab dengan anggukan kepala.
"Kita sahabat, bukan?" Kalimat itu kembali kulontarkan kepada kamu. Kamu tersenyum hangat dan kembali ceria. Aku, sahabatmu, akan selalu berada disampingmu, dalam sedih maupun senang, dalam suka maupun duka. Kita akan selalu bersama, seperti janji yang dulu aku dan kamu buat. Indah, bukan?
Kalimat itu menjadi makanan sehari-hari hubungan aku dan kamu. Kalimat yang memperjelas betapa eratnya ikatan antara aku dan kamu.
Hampir setiap waktu, aku dan kamu menghabiskan dengan bercenda gurau, berbagi keluh dan kesah. Tak ayal jika jarak antara aku dan kamu, lengket seperti lem. Bahkan banyak diantara orang-orang sekitar mengira jika aku dan kamu adalah anak yang terlahir kembar. Kamu bahkan sering menghabiskan malam dengan berada di rumahku, begitupun sebaliknya. Aku sering sekedar untuk mengajakmu menonton DVD terbaru yang baru saja kubeli. Aku dan kamu membuat janji untuk hidup selalu bersama. Tapi, apakah aku dan kamu akan terus seperti ini?
Pertanyaan itu terjawab, ketika kamu memiliki kekasih baru. Kini, kita tidak lagi menghabiskan waktu 'berdua' melainkan 'bertiga', dengan dia, kekasihmu. Bahkan tidak ada lagi jalan berdua, melainkan bertiga. Tidak ada lagi waktu yang kita habiskan hanya untuk berbagi cerita. Kini, hanya ada kamu dan dia, tersisa aku sendiri dibalik punggungnya. Aku hanya dapat menunggu untuk kamu menoleh sejenak, hanya sejenak. Lama-kelamaan, aku lelah. Aku lelah hanya berada dibalik punggungnya, dan aku memilih mundur dari persahabatan ini. Aku tidak memiliki harapan atas ini, persahabatan aku dan kamu kini tinggal kenangan dan nama saja. Kini, aku sudah mulai terbiasa dengan 'kesendirian', meskipun, hampa yang kurasakan.
Tiba-tiba, kamu hadir kembali. Muncul di depan pintu rumahku dengan air mata yang membasahi wajahmu. Tanganku tak kuasa untuk menghapus air matamu. Kupeluk kamu dalam dekapan hangat seperti dulu. Kamu menangis terisak dengan hebatnya, menceritakan betapa sakitnya hatimu disakiti oleh kekasih yang kamu sayangi. Kini, kamu pun ikut merasakan sakitnya hatiku. Kata maaf beribu kali terlontar dari mulutmu, yang tentu saja, kujawab dengan anggukan kepala.
"Kita sahabat, bukan?" Kalimat itu kembali kulontarkan kepada kamu. Kamu tersenyum hangat dan kembali ceria. Aku, sahabatmu, akan selalu berada disampingmu, dalam sedih maupun senang, dalam suka maupun duka. Kita akan selalu bersama, seperti janji yang dulu aku dan kamu buat. Indah, bukan?
Langganan:
Postingan (Atom)