Aku menyusuri tepian
pantai dengan ombak yang melambai dengan kamera di tanganku. Mencoba untuk
mencari spot yang enak untuk membidik indahnya ciptaan Tuhan. Aku mengangkat
kameraku ke depan mataku.
Klik!
Satu gambar tersimpan
dalam memory kameraku.
Aku melihat kembali hasil
jepretanku. Hm, lumayan.
Terus saja aku melakukan
hal yang sama. Berjalan, berhenti dan membidik kameraku. Memory kamera milikku
pun sudah terisi banyak hasil jepretan di berbagai angle.
Aku merasakan seseorang
menepuk pundakku ketika aku sedang asyik melihat hasil jepretanku. Aku berbalik
dan menemukan seorang laki-laki sedang tersenyum padaku. Aku terkejut ketika
mendapati Eden berada tepat di depanku.
"Hai, Nath."
Aku tersenyum. "Hai,
Eden. Apa kabar?"
"Baik. Gimana dengan
kamu?"
"Aku juga baik. Eh,
yuk, duduk di situ biar lebih enak ngobrolnya." ajakku kepada Eden.
"Kamu sekarang sibuk
apa?" tanya Eden ketika kami sampai di sebuah bangku pantai yang menjadi
tempat duduk kami sekarang.
"Aku sibuk motret
aja sekarang. Kalau kamu? You look different." kataku sembari tertawa
renyah.
Eden ikut tertawa
mendengar perkataanku. "Kamu juga semakin cantik, Nath. Kalau aku sibuk
ngurus usaha kecil-kecil saja sekarang. Lumayan buat modal nikah."
"Kamu sudah mau
nikah? Wah, kenalin calonnya, dong!"
"Calonnya belum ada.
Kepinginnya sih kamu." Kelakarnya sambil tertawa.
Aku memaksakan sebuah
tawa di wajahku. Aku merasakan sudut hatiku tumbuh sebuah perasaan yang sudah
aku tanam dari dulu, yang kembali muncul akibat perkataan Eden.
Aku menguatkan hatiku.
Mengucap nama Jonas berulang kali. Alamat CLBK kalau begini!
Bantu hamba, Ya
Tuhan.
"Kamu masih seperti
dulu, ya? Suka bercanda." kataku berusaha mencairkan suasana.
"Siapa bilang aku
bercanda, Nath?"
Aku meringis. "Eden,
tolong jangan begini."
Aku mentap mata Eden.
Berusaha menyampaikan sejuta perasaan yang ada di hatiku.
Perasaan senang karena
bertemu dengannya setelah sekian tahun tidak mendengar kabarnya.
Perasaan kecewa kenapa
Eden baru mendatangiku. Bukan mencariku sejak dulu, bila yang dikatakannya
adalah benar.
Dan sedih, karena
statusku dan hatiku yang sudah dipenuhi oleh orang lain. Orang lain yang
merupakan sahabatnya.
"Nath, kamu
tahu?" Eden mengalihkan tatapannya dariku ke arah ombak pantai yang saling
belarian. "Dulu aku kepingin banget ngajak kamu ke pantai. Dan aku senang,
keinginanku terwujud. Meskipun dengan kita yang bertemu secara kebetulan."
"Kamu pernah
berpikiran untuk mengajakku? Untuk apa?"
"Aku suka pantai.
Aku pingin kamu juga menyukai hal yang aku sukai, Nath."
Mungkin, jika Eden
mengatakannya bertahun-tahun yang lalu, aku akan merasa senang dan
berbunga-bunga.
Tapi tidak dengan
sekarang.
Ini salah, semua salah.
Seharusnya aku tidak berbaik hati mengajak Eden berbicara. Seharusnya aku juga
lebih berpikir panjang untuk bertemu 'teman lama'. Demi Tuhan, aku takut
setan-setan yang berkeliaran ini mampu mempengaruhiku.
"Aku bukan
siapa-siapa kamu. Aku enggak berhak untuk itu."
Eden tertawa, tetapi aku
dapat mendengar nada sumbang dalam tawanya.
"Nath, seandainya
aku tidak terlambat, apa kamu akan menjadi milikku?"
Eden sialan!
Pertanyaan macam apa
itu?
Jujur saja, mungkin jika
Eden mengutarakan perasaannya lebih dulu padaku, kami tak akan seperti ini.
Kami akan bersama dan menjalin kisah yang selalu kami gadang-gadang di masa
lalu. Betapa indahnya harapan kami saat itu.
Atau mungkin jika aku tak
bersama Jonas, aku dan Eden akan bertemu di masa depan dan kemudian bersama.
Merangkai kembali kenangan masa lalubyang sempat terputus.
Tapi tidak. Aku percaya
takdir.
Mungkin jika dulu Eden
tidak terlambat, di masa depan kami akan berakhir dan aku akan memulai hubungan
dengan Jonas.
Atau, seperti sekarang
ini. Dari dulu hingga sekarang, aku tetap bersama Jonas. Bukan Eden.
"Aku enggak tahu,
Eden." ucapku kepada Eden. "Tapi satu hal yang aku tahu, kita seperti
ini adalah takdir. Meskipun kita bersama, aku akan tetap bersama Jonas. Karena
takdirku bersama Jonas bukan kamu, Eden."
Lagi lagi, Eden tertawa
dengan nada sarat akan kesedihan.
"Aku menyesal kenapa
dulu, ketika Jonas menyuruhku berhenti, aku malah menurutinya. Bukan
memperjuangkanmu."
Aku diam, tidak tahu
harus menjawab apa. Rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pembicaraan
ini. Aku sudah berada pada posisi tidak nyaman. Coba bayangkan, nyamankah
berbicara masa lalu dengan masa lalumu sedangkan statusmu adalah calon istri
dari sahabat masa lalumu itu?
Duh, bunuh saja adek,
bang!
Tapi, mungkin ini memang
waktunya. Kami harus menyelesaikan masalah yang seharusnya sudah usai sejak
dulu. Tapi terhalang oleh ego dan perasaan kami.
"Nath, aku enggak
sanggup untuk kehilangan kamu lagi."
"Stop, Eden! Dari
dulu sampai sekarang begitu juga nanti, kita tidak ada apa-apa. Kita cuma
'teman lama' yang kebetulan bertemu. Jangan berbicara seolah-olah kita
mempunyai masa lalu yang indah!" kataku tegas.
"Kamu lupa, Nath,
kalau kita sering bercanda dan menghabiskan banyak waktu bersama? Kita
mengerjakan tugas bersama dan bahkan selalu berada di kelompok belajar yang
sama." balas Eden dengan nada pilu. "Aku rela jadi yang ke dua di
hati kamu asal kita bisa mengulang masa itu, Nath."
Aku menggeleng.
Eden sudah gila!
Bagaimana bisa ia
berbicara seperti itu. Demi Tuhan, acara pernikahanku dengan Jonas sudah di
depan mata. Dan dia, datang setelah sekian lama menghilang, memintaku untuk
menerimanya sebagai selingkuhan? Fix, dia sudah gila! Benar benar gila!
"Iya! Aku memang
gila, Nath." ucap Eden dengan suara parau. "Aku gila semenjak kamu
milih Jonas dibanding aku. Jonas sahabat aku, Nath! Bagaiman bisa kamu sejahat
itu padaku?"
Sudut hatiku teremas.
Duh, ngilu.
Kalau saja Eden lebih
terbuka padaku dulu, aku tak akan ragu untuk menunggunya sampai Eden menyatakan
perasaan. Tapi apalah daya, Eden dulu terlihat cuek dan hanya menganggap aku
tidak lebih dari temen. Membuat hatiku yanng kala itu ingin sembuh dari rasa
sakitnya, menerima Jonas dengan segudang kenyamanan dan kebaikan hatinya.
Yang dicintai akan kalah
dengan yang selalu ada, benar 'kan?
Karena cintaku kepada Eden
kalah dengan kepastian yang ditawarkan oleh Jonas.
"Aku minta kamu
berhenti sekarang, Eden. Enggak akan ada lagi yang perku kita lanjutkan karena
dari dulu kita enggak pernah memulai. Kamu yang memilih untuk mundur
dulu."
Eden menatapku dengan
pilu. Aku balas menatapnya. Entah kenapa, hatiku merasa bersalah melihat
tatapannya. Seolah akulah di sini si pelaku kejahatan.
"Jadi, aku harus
berhenti sekarang, ya?"
Aku hanya mengangguk
sebagai jawaban. Mengalihkan tatapanku darinya, berusaha membuat diriku tidak
merasa semakin bersalah lagi. Dalam hati, aku merutuki pertemuan ini.
Ingin mengakhiri
pertemuan kami ini, aku bangkit berdiri dan membersihkan bagian belakang
bajuku. Sudah cukup. Masalah kami sudah selesai. Dan tidak akan ada lanjutan
dari kisah ini. Biarlah penyesalan menjadi pembelajaran bagi kami, bahwa
kesempatan hanya datang sekali. Dan bahwa cinta tidak cukup untuk menjadi kedua
anak manusia menjadi kuat.
"Aku rasa masalah
kita sudah selesai. Aku pamit dulu." kataku sebelum beranjak meninggalkan
Eden yang masih duduk di bangku pantai.
"Nath," panggil
Eden ketika aku sudah beranjak tiga langkah dari tempatnya. Aku berbalik,
menaikan sebelah alisku. "Apa dulu kamu pernah mencintaiku?"
Aku tersenyum mendengar
pertanyaannya. "I did."
Setelah mengatakan itu,
aku melanjutkan langkahku. Mungkin dulu kami pernah melakukan kesalahan dengan
tidak jujur akan perasaan kami masing-masing. Tetapi untuk seterusnya aku
menjanjikan hatiku hanya untuk Jonas dan memastikan bahwa Jonas pun begitu.
Semoga Eden dapat melupakanku dan mendapatkan perempuan yang seribu kali lebih
baik dari aku.
Ini ceritaku, apa
ceritamu?