Kasih Yesus kepada Manusia
Sejak kecil aku berada di lingkungan yang tidak mengenal Tuhan. Aku selalu mengandalkan kekuatan pribadi dan percaya akan tahayul-tahayul. Keluarga mengajariku akan tidak adanya Tuhan di dunia. Keluargaku memang menganut Atheis. Keluargaku mengajarkanku untuk tidak bergumul dengan orang disana. Karena itulah, aku selalu saja menyindiri dari lingkungan, baik disekolah ataupun disekitar rumahku. Teman-temanku selalu menatapku ataupun menghinaku dengan sebutan 'aneh'. Karena itulah, aku tidak mempunyai teman.
Hingga suatu ketika, gempa bumi melanda daerah kediamanku. Keluargaku meninggalkanku sendiri, yang masih berusia 6 tahun ini. Aku berlari sambil menangis mencari kedua orang tuaku. Beberapa bagian tubuhku sudah lecet terkena hantaman renruntuhan bangunan rumah yang tumbang. Aku melihat sejumlah orang berlari kesana sini berusaha meminta pertolongan. Aku hanya dapat menangis, berharap orang tuaku datang menolong. Tanpa kusadari runtuhan rumah tetanggaku, mengenaiku. Sehingga aku pun ikut tertimbun. Aku berusaha menahan rasa sakit akibat terjepit batu besar, mencoba menyerukan kedua orang tuaku.
Aku masih mendengar bebrapa orang berteriak, berlari, menangis, dan meminta tolong. Tak ada satupun orang yang mau membantuku. Aku tidak dapat berbuat apapun, mengingat usiaku yang masih sangat kecil saat itu.
Sampai akhirnya, aku melihat sinar diantar renruntuhan ini yang amat terang, hingga menyilaukan mataku. Aku sedikit menyipit dan menghalangi sinar tersebut dengan tanganku. Aku melihat sesorang yang tubuhnya bersinar mengulurkan tangan kepadaku, sembari tersenyum. Aku sedikit takut kala itu. Namun, hati nuraniku berkata bahwa Dia adalah malaikat, yang berada di dongeng-dongeng, yang akan menolongku. Aku memberanikan diri untuk menyambut ularan tangan tersebut.
Nyaman. Tentram. Seketika hatiku tenang. Seolah-olah aku mendapatkan hidup baru. Hidup yang lebih damai.
Tak lama kemudian, sinar itu berganti dengan suara banyak orang yang menanyakan keadaanku. Aku hanya bisa memanggil 'Mama dan Papa'. Segerombolan orang itu berusaha mengeluarkanku dari situ. Sampai akhirnya, aku selamat dan keluar. Aku langsung digotong masuk kedalam ambulance yang telah disiapkan.
Mataku mencari-cari keberadaan seseorang yang mengulurkan tangan-Nya kepadaku. Aku menangkap seberkas cahaya terang tadi dari arah lagit, hingga menjadi lenyap. Aku tersenyum menyadarinya.
Lima Belas Tahun Kemudian.......
Setelah kejadian itu, aku diangkat oleh keluarga kaya yang menganut agama Kristen. Semenjak itu aku belajar mengenal Yesus, dan hidup dalam-Nya. Hingga suatu ketika, kekasihku yang notabene menganut agama yang sama dengaku, mengajakku untuk melakasanakan ibadah rutin setiap minggunya ke gereja. Aku melihat gereja ini begitu sederhana, tapi sangat menenangkan. Aku dapat merasakan Roh Kudus datang dan berada disini. Sama seperti setiap kali aku memasuki gereja manapun.
Tatapan mataku terantuk pada sebuah patung Tuhan Yesus, yang tergantung manis didinding.
"Kamu tau? Dia-lah yang menyelamatkanku, kala aku hampir saja mati saat gempa bumi" Ujarku kepada kekasihku yang berada disampingku.
Kekasihku tersenyum. Mengucap syukur, hingga sampai saat ini, aku masih dapat bertemu dengannya, merasakan hangat kasih Tuhan, merasakan kasih sayang kedua orang tua angkatku, dan merasakan kasih terhadapa sesama. Tidak ada yang lebih indah selain 'KASIH'.
Minggu, 19 Mei 2013
Arti Cinta
Arti Cinta
Terkadang aku lebih memilih untuk tidak merasakannya
Terlalu rumit
Melakukan pengorbanan yang belum tentu dihargai
Merasakan penghianatan
Yah, cinta..
Itu namanya
Membuat seberkas kenangan yang sulit untuk dihapuskan
Disisi lain..
Cinta mengajariku banyak hal
Mengajariku tentang air mata kesedihan
Mengajariku tentang air mata terharu
Sudah pantaskah aku untuk merasakannya?
Sabtu, 18 Mei 2013
Kekecewaan
Kekecewaan
Kecewa..
Benar, aku kecewa
Aku menangis
Yah, cuma itu yang dapat kulakukan
Sebuah kebenaran yang terungkap kala hati sedang remuk
Meremas begitu kuat
Mengoyak dengan sebilah pisau yang amat tajam
Tak mengenal bulu
Sesak..
Sesenggukan dengan air mata
Tak ada tangan yag menghapus
Kadang, kebenaran itu tak ingin kudengar
Kecewa..
Benar, aku kecewa
Aku menangis
Yah, cuma itu yang dapat kulakukan
Sebuah kebenaran yang terungkap kala hati sedang remuk
Meremas begitu kuat
Mengoyak dengan sebilah pisau yang amat tajam
Tak mengenal bulu
Sesak..
Sesenggukan dengan air mata
Tak ada tangan yag menghapus
Kadang, kebenaran itu tak ingin kudengar
Label:
Puisi
Lokasi:
Batam Island, Indonesia
Jumat, 10 Mei 2013
Hati yang Tak Dapat Kumengarti
Hati yang Tak Dapat Kumengarti
Disaat ku menangis
Kau hanya terdiam
Disaat ku bahagia
Kau hanya tersenyum
Hatimu..
Tak dapat kumengerti
Sampai akhirnya
Aku memahaminya
Hatimu telah lama pergi
Menyisakan bayangan
Yang melekat dipelukanku
Disaat ku menangis
Kau hanya terdiam
Disaat ku bahagia
Kau hanya tersenyum
Hatimu..
Tak dapat kumengerti
Sampai akhirnya
Aku memahaminya
Hatimu telah lama pergi
Menyisakan bayangan
Yang melekat dipelukanku
Label:
Puisi
Lokasi:
Batam Island, Indonesia
Bayanganmu
Bayanganmu
Suara itu..
Membuatku bahagia
Senyum itu..
Membuatku berdebar
Tak lagi kudengar
Tak lagi kulihat
Kini hanya ada bayanganmu
Aku menangis....
Sampai, dia datang
Menghapus air mata
Mengobati luka
Senyumannya...
Mengubah segalanya...
Terimakasih
Suara itu..
Membuatku bahagia
Senyum itu..
Membuatku berdebar
Tak lagi kudengar
Tak lagi kulihat
Kini hanya ada bayanganmu
Aku menangis....
Sampai, dia datang
Menghapus air mata
Mengobati luka
Senyumannya...
Mengubah segalanya...
Terimakasih
Label:
Puisi
Lokasi:
Batam Island, Indonesia
Kepedihan
Kepedihan
Ketika mentari datang
Menggantikan
sinar bulan
Ketika hawa
dingin
Tergantikan
oleh kehangatan
Taklagi kudapati
seperti yang dulu
Telah tergantikan
oleh genggaman tangan yang berbeda
Tak lagi
suara kebahagian yang kudengar
Kini,
jerit tangis menghibur pendengaranku
Aku tersadar
Hari lalu
tidak bisa terulang
Aku hanya
dapat menatapnya
Namun tak
bisa menjangkaunya
Hanya bayangan
Yah,
hanya bayanganmu yang kutemui di masa depan
Label:
Puisi
Lokasi:
Batam Island, Indonesia
Dibalik Sosok Seorang Ali
DIBALIK SOSOK SEORANG ALI
Pagi hari
yang cerah, sang mentari menyinari bumi atau alam. Aku datang ke sekolah
bersama temanku, Lia, sambil bercanda. Setelah sampai di sekolah, jam
menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel pun berbunyi bertanda pelajaran akan segera
dimulai.
Aku
masuk ke kelas bersama teman-temanku yang lain kelas IX. Tak lama kemudian,
masuklah Bu Butet ke kelas kami. Ega, ketua kelas kami, menyiapkan kelas dan
memberi salam kepada Bu Butet “Selamat siang, bu” ucap kami serempak. “Selamat
siang, anak-anak” balas Bu Butet.
Tetapi,
mata Bu Butet tiba-tiba tertuju pada tas di samping Ega, milik Ali. Tetapi,
orang nya tidak ada. “Kemana Ali, Ega ?”. “Saya tidak tahu, bu. Tadi pagi ada”
kata Ega kepada Bu Butet. Bu Butet hanya mengangguk dan memulai pelajaran.
Beberapa
saat kemudian, datanglah Ali dengan santainya. Baju yang tidak rapi —tidak dimasukkan
dan kusut—, rambut yang panjang dan berantakan membuat kesan berandalan. Bu Butet
yang sadar akan kehadiran Ali, kemudian menghampirinya “Darimana saja kamu, Ali
?”. Ali mengacuhkan pertanyaan Bu Butet, dan berjalan menuju bangkunya, di
samping Ega. Bu Butet hanya dapat menghela nafas melihat tingkah laku anak
muridnya yang satu ini.
Ali
memang kerap kali seperti itu. Semua guru hanya dapat menghela nafas pasrah.
Bahkan, Ali kerap kali membolos ketika pelajaran sedang berlangsung. Ali juga
kerap kali tidak mengerjakan tugas dan melawan guru. Bahkan, beberapa guru
mengacuhkan keberadaan Ali karena sudah lelah untuk menegur Ali.
Akhirnya,
Bu Butet melanjutkan pelajaran karena sempat tertunda oleh kehadiran Ali.
Sesekali
kulirik Ali. Lagi-lagi, dia hanya tertidur. Hampir —bahkan semua— pelajaran yang
Ali ikuti, dia hanya tertidur dan tak menghiraukan guru yang sedang
menjelaskan.
Aku
sangat mengenalnya. Sejak kecil, aku telah bersamanya. Menjalani ikatan
persahabatan yang begitu lama. Ali begitu periang dan ramah. Banyak orang yang
menyukainya. Bahkan, Ali tergolong orang yang cerdas. Tapi semua itu dulu,
ketika kejadian 3 tahun silam belum terjadi. Kejadian yang membuatnya menjadi
sosok yang dingin dan tak mempercayai orang lain. Kejadian yang tak diinginkan
oleh siapa pun. Kejadian yang hanya mimpi buruk bagi setiap orang. Kejadian yang
dapat menyayat hati. Namun, kejadian itu terjadi pada Ali dan membuatnya begitu
terpuruk…
“Davin…”
aku tersentak ketika Bu Butet memanggil namaku. “Ii..iiyaa.. bu” aku gelagapan
menjawabnya. “Mengapa kamu melamun, Davin ?” aku tersadar. Ternyata sedari tadi
aku hanya melamun dan tidak mendengarkan penjelasan Bu Butet. Aku memandang
teman-teman di kelas ku, termasuk Ali yang ternyata telah bangun dari mimpi
indahnya. Semua memandang ku dengan tatapan meminta penjelasan. “Tidak, bu” aku
hanya nyengir tidak jelas. “Yah sudah. Jangan melamun lagi. Baiklah, kita
lanjutkan pelajarannya kembali” kata Bu Butet sembari melanjutkan pelajaran.
***
Bel
berbunyi, tanda jam pelajaran telah usai. Segerombolan siswa mulai berhamburan
meninggalkan sekolah. Ada beberapa siswa yang tetap tinggal di sekolah untuk
mengerjakan tugas ataupun mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Berbeda
dengan aku, Ali, dan Lia. Kami tetap tinggal di sekolah, hanya sekedar untuk
berbincang-bincang satu sama lain. Inilah kebiasaan kami —aku, Lia dan Ali— sejak
menginjak bangku SD, tepatnya sekitar 4 tahun silam ketika kami duduk di bangku
kelas 5 SD.
Mereka
sedang berada di sebuah taman sekolah. Inilah tempat biasa mereka kunjungi
ketika ingin berbincang satu sama lain. Dan inilah mereka, duduk melingkar
—diposisi kiri ada Ali, ditengah ada Lia dan selanjutnya aku— di bawah sebuah
pohon yang sejuk dan rindang.
“Ali..”
panggilku kepada Ali. Ali hanya menoleh dan menatapku. “Kau.. darimana saja
tadi, sewaktu pelajaran Bu Butet ?” kataku hati-hati. Berusaha untuk tidak
menyinggung hatinya. Ali hanya menghela nafas berat. “Seperti biasa..” Ali
menggantungkan kalimatnya dan menghela nafas panjang. “Aku merindukannya
lagi..” kali ini tatapan Ali kosong. Terpancar kesedihan dan keterpurukan yang
begitu dalam di matanya.
Kebiasaan
Ali jika tidak ingin belajar adalah ke tempat ini. Ke tempat yang sedang kami
duduki saat ini. Hanya untuk melepas rindunya.
Aku
mengerti apa yang sedang Ali rasakan. Telah berkali-kali Ali seperti ini. Kami
—aku dan Lia— hanya dapat terdiam mendengarnya.
“Mengapa
kamu tidak mengunjunginya saja ? dia pasti merindukanmu juga” kini, Lia pun
angkat bicara. Sebenarnya, aku dan Lia tak tega jika melihat kondisi Ali
sekarang. Ali yang periang pergi begitu saja dan tidak tahu kapan akan kembali
lagi.
“Tidak,
aku takut jika dia marah. Semua ini salah aku..” suara Ali kini terdengar
bergetar. Apakah dia menangis ? batinku.
“Ali..
sampai kapan kamu akan seperti ini. Menyalahkan dirimu sendiri. Dan terperuk
begini. Semua ini bukan kesalahan kamu, Ali” terang Lia kepada Ali. Lia tidak
ingin melihat sahabatnya ini semakin terpuruk.
“Kalian
tidak merasakan apa yang aku rasakan sekarang..” Ali berkata dengan suara yang
begitu kecil.
“Maafkan
kami jika kami membuatmu teringat kembali akan kejadian itu. Kami akan selalu
ada untuk kamu” kataku disusul dengan anggukan kepala dari Lia. Ali hanya
membalas dengan tersenyum kecut.
“Baiklah,
lebih baik kita pulang. Hari sudah semakin gelap” ajakku kepada kedua sahabatku
ini. “Ayoo..” jawab mereka serempak.
***
Seperti
biasa, setiap berangkat sekolah, aku selalu bersama teman-temanku. Ali tidak
ikut serta karena arah jalur rumah mereka yang berlawanan dengan arah jalur
rumah ku.
Sesampai
di sekolah, jam di pergelangan tanganku telah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ku
letakkan tasku diatas meja. Kulirik bangku Ali berada. Tasnya belum bertengger
di bangkunya menandakan bahwa siempunya —Ali— belum berada disekolah. Mungkin belum datang, batinku.
Jam
di pergelangan tanganku sekarang telah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel akan
segera dibunyikan. Namun, Ali tak kunjung datang hingga kami memulai pelajaran.
Kemana Ali sebenarnya ? tanyaku
penasaran dalam hati.
***
Sudah
dua minggu Ali tidak masuk sekolah dan tanpa kabar. Pihak sekolah sudah melayangkan
surat peringatan kepada Ali. Namun, hasilnya nihil. Ali tak kunjung masuk
sekolah.
Aku
dan Lia, hanya dapat menggelengkan kepala ketika teman-teman mulai menanyakan
keberadaan Ali. Ali memang kerap kali membolos. Namun, Ali tak pernah membolos hingga
selama ini.
“Davin..
kemana sebenarnya Ali ? apakah dia baik-baik saja ? apa sebaiknya kita
mengunjungi rumah nya saja ?” Tanya Lia yang tampak begitu khawatir. Aku tidak
tahu harus berbuat apa. Baru kali ini Ali seperti ini.
“Aku
tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas dia pasti baik-baik saja.
Begini saja, kita coba saja menghubungi telepon rumahnya, jika tidak ada yang
menjawab baru kita mengunjungi rumah nya. Bagaimana?” Lia tampak sedikit lega
ketika aku menyarankan seperti itu. “Baiklah, kita hubungi saja dulu” katanya
lalu tersenyum.
Aku
pun mencoba menghubungi telepon rumah nya melalui telepon genggamku. Nada
panggilan masuk terdengar. Namun, tak ada satu pun orang yang mengangkat. Aku
coba hingga beberapa kali. Hasilnya tetap sama. Tidak diangkat.
“kita
ke rumah nya saja” kataku ke Lia yang sedari tadi menunggu penjelasan dariku.
“Baiklah” jawab Lia sambil tersenyum.
***
Bel
berbunyi bertanda pelajaran telah selesai. Aku dan Lia langsung bersiap-siap
untuk pergi mengunjungi rumah Ali. Inilah pertama kalinya semenjak kejadian
itu, aku dan Lia ke rumah Ali. Semenjak kejadian itu terjadi, Ali menjadi
sangat tertutup kepada siapa pun.
Kami
memilih untuk memakai kendaraan pribadi milikku, sepeda motor. Butuh waktu
sekitar 30 menit untuk sampai di rumah Ali. Rumah Ali dan sekolah memang
terbilang cukup jauh.
Inilah
rumah Ali. Rumah yang begitu besar, gelap dan sepi. Berbeda dengan terakhir
kali nya kami —aku dan Lia— mengunjungi rumah ini. Dulu, rumah ini begitu asri
dan nyaman. Pekarangan rumah yang selalu ditanami berbagai jenis tumbuhan, kini
berubah menjadi pekarang yang tandus dan tak terawat.
Semua
karena kejadian itu. Semua orang menyalahkan Ali. Bahkan, keluarga dan sanak
saudara Ali pun tak ada yang memperdulikannya lagi. Kamilah yang selalu ada
untuknya. Kami, terlebih aku, tak ingin membuatnya seakan tak ada orang yang
memperhatikannya. Kehidupan Ali sangat terpuruk.
Aku
dan Lia mulai memasuki rumah Ali. Kami melewati pekarangan yang tak terawat dan
gersang di rumah Ali. Sesampainya kami di depan pintu rumah Ali, kami langsung
mengetuk pintu itu.
Ttok..
took.. ttoookk… ttoookk.. tokkk..
Tak
ada jawaban. Lia mencoba sekali lagi. Nihil. Tak ada jawaban juga. Lia menatap
ku seakan meminta saran. Aku hanya menggeleng.
“Sepertinya
tak ada orang” kata Lia sembari menatap sekeliling rumah Ali. “Rumahnya seakan
tak terawat. Apakah tak ada satu orang pun yang memperhatikannya ?” sambung
Lia. Lia betul, rumah ini tidak dapat disebut sebagai rumah. Rumah ini begitu
berantakan. Seperti rumah kosong.
“Jika
seperti ini terus, hidupnya akan berantakan..” kataku prihatin.
“Kita
tunggu saja sampai Ali pulang” pinta ku yang hanya dijawab dengan anggukan oleh
Lia. Kami memutuskan untuk menunggu di kursi taman yang ada di pekarangan rumah
Ali.
Tiga
jam kemudian, jam menunjukkan pukul 18.45 WIB ..
“Lia..
Davin..” aku tersentak dan menoleh mendengar sesorang memanggil namaku. “Apa
yang kalian lakukan disini?” Tanya orang itu kepada kami. Yang ternyata adalah
Ali. “Alii...” panggilku kepada nya. Aku iba melihatnya. Aku menatap wajah nya
yang terlihat kelelahan. “Kalian masuk saja dulu, ayoo” ajak Ali kepada kami.
Sreeekkkkk…
Setelah
pintu terbuka, terlihatlah isi dalam rumah Ali. Rumah ini kosong. Hanya ada
sofa tamu yang sudah sobek dan tak layak pakai, tergeletak di sudut ruang tamu
rumah Ali. Hanya itu. Tak ada televise dan perabotan yang lain. Rumah ini
sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.
Ali
mempersilahkan kami duduk di sofa itu. Lia menatapku seakan tak percaya akan
semua ini, dan aku hanya dapat balik menatapnya.
Ali
keluar dari kamarnya. Kamar yang sedari dulu dia tempati. “Aku merindukan
kalian..” kata Ali lembut sembari duduk disofa yang sama dengan kami. “Aku kira
kalian tidak akan memperdulikanku, ternyata aku salah…” Ali menatap datar
langit-langit rumah yang catnya sudah banyak terkelupas.
“Kamu
kenapa tidak sekolah? Dan kamu darimana?” tanya Lia penasaran. Inilah
pertanyaan-pertanyaan yang selalu melayang-layang di pikiranku. Pertanyaan yang
menimbulkan tanda tanya besar. Ali menghela nafas, “Aku.. dari panti asuhan”
jawab Ali singkat.
Itulah
Ali. Dia selalu mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingannya
sendiri. Ali memang suka membantu sebuah panti asuhan. Bahkan, dia selalu
bekerja keras untuk membiayai panti asuhan dan hidupnya sendiri.
“Rumah
ini.. begitu suram ya.. tak seperti dulu lagi. Aku menjual perabotan rumah
ini.. hanya untuk kebutuhan hidupku dan panti asuhan. Aku harus bekerja di
empat tempat berbeda, itulah mengapa aku tak sekolah beberapa hari ini..” Ali
mengambil nafas.
“Pagi
hari, aku menjual Koran. Siang hari, aku bekerja di sebuah restoran sebagai
seorang pelayan. Sore hari, aku bekerja sebagai pengantar pos. Dan malam hari,
aku bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah warung kecil..” tambah Ali.
Aku
takjub akan perbuatan Ali. Kami tak menyangka hidupnya akan sesengsara ini. Aku
menatap nanar Ali. Tampak diraut wajahnya begitu banyak penderitaan. Apa salahnya sehingga dunia begitu kejam
kepadanya? Batinku menangis.
“Tak
ada seorang pun yang peduli kepada aku dan ibuku. Aku bekerja juga untuk
pengobatan ibuku. Tanteku terus memaksaku untuk mengambil ibuku dan merawat
ibuku sendiri..” kata nya terputus. Ali menangis. Ali menghapus air matanya
yang terjatuh. Untuk pertama kalinya aku dan Lia melihat seorang Ali menangis.
“Gumpalan darah di kepala ibuku.. tumbuh lagi.. dan kondisi ibu semakin parah..
seandainya kejadian itu tak terjadi.. ayah pasti masih hidup dan ibu tak akan
seperti ini. Ini semua salahku..” tangis Ali pecah. Ali sedikit terisak. Aku
dan lia memeluk Ali. Pelukan hangat seorang sahabat.
Kejadian
itu. Dimana membuat hidup Ali berubah 180 derajat dari sebelumnya. Musibah yang
membuat sayatan yang begitu dalam dan menyakitkan di hati Ali dan ibunya.
Kecelakaan
3 tahun silam..
Kecelakaan
yang merenggut nyawa ayah Ali dan membuat kondisi ibu Ali menjadi cacat…
***
“Ayah,
ayah, ayah, ayah.. lihat ini..” kata seorang anak laki-laki kepada ayahnya yang
sedang sibuk menyetir. “Ali, tenanglah sedikit. Ayah sedang menyetir” kata sang
ayah dengan lembut memperingatkan anaknya. “Tidak mau! Ayah harus lihat ini. Nilai
ulangan ku sangat baguskan ayah? Ayah coba lihat sebentar. Nilaiku sempurna,
ayah” rengek anak laki-laki itu kepada ayahnya, Ali. “Ali, tenanglah sayang.
Ayah sedang menyetir. Nanti saja ya” kata seorang wanita yang notabene adalah
ibu Ali.
“Tidak
mau! Ali maunya ayah melihatnya sekarang” pinta Ali.
“Baiklah,
ayah akan melihatnya. Coba sini ayah lihat” ayah Ali pun mengulurkan tangan dan
menoleh ke belakang, tempat anak nya itu duduk. Ali pun memberikan kertas
ulangannya dengan senyum merekah di wajah nya. Ayah Ali masih sibuk melihat ke
belakang sambil menyetir, hingga tak sadar ada sebuah truk besar dari arah
berlawanan.
“Ayaaaahhhh…
awaaaasssss!!!!!” teriak ibu Ali menyadarkan suaminya. Ayah Ali menoleh ke
depan dan berusaha mengendalikan kemudi setir mobil. Namun, kecelakaan tak
dapat dihindarkan. Mobil Ali tak dapat menghindari truk dan terlempar ke
jurang.
Mobil
Ali hancur tak berbentuk lagi. Kondisi ayah dan ibu Ali begitu mengenaskan.
Mobil Ali terbalik dan menyebabkan Ali terlempar keluar dari mobil. Kondisi Ali
baik-baik saja. Bahkan, setelah mobilnya terlempar ke jurang, Ali sempat
tersadar dan mencoba untuk meminta bantuan. Sampai akhirnya, polisi dan
ambulance datang untuk menolong.
Ali
hanya mendapat luka di bagian kepala, kaki dan tangan. Ibu Ali mengalami cedera
dan patah tulang di beberapa bagian. Sedangkan ayah Ali sudah tidak bisa
diselamatkan lagi.
Setelah
sampai di rumah sakit, Ali dan ibunya langsung mendapat pertolongan medis.
Dokter mengatakan bahwa, ibu Ali mengalami kelumpuhan dan terdapat gumpalan
darah di kepalanya. Dan akhirnya, ibu Ali dioperasi dan menjalani masa
pemulihan. Ali hanya luka ringan yang dapat disembuhkan. Dan betapa terkejutnya
Ali ketika mengetahui ayahnya telah tiada. Ibu Ali hanya dapat terbaring lemah
melihat jasad suaminya. Ali menjerit dan menangis sekuat-kuatnya.
Saudara
dan keluarga Ali yang datang, malah menyalahkan Ali atas kematian ayahnya. Ali
merasa terpojok dan terpuruk. Hingga, setelah pemakaman ayahnya, Ali memutuskan
untuk menitipkan ibunya kepada tantenya, di Bandung.
“Tante,
jaga ibu baik-baik. Aku akan mengirim uang untuk pengobatan ibu setiap
bulannya. Terimakasih tante” tante Ali hanya diam dan menunjukkan muka tidak
senangnya.
“Ibu,
Ali pergi dulu ya.. Ali akan cepat kembali. Ali menyayangi ibu..” ucap Ali
untuk yang terakhir kalinya dan mencium kening ibu lembut. Ali lalu pergi dan
meninggalkan ibu. Jika tidak menitipkan ibunya, Ali takut ibunya juga akan
menyalahkannya atas kematian ayahnya. Ali akan mencoba memulai hidup mandiri
dan bekerja keras…
***
Aku
dan Lia, masih memeluk Ali yang sedang menangis. Lia sudah ikut menangis sedari
tadi. Aku hanya dapat terdiam dan merasa kasihan pada sahabat ku ini. Dibalik
sosok Ali yang dingin dan cuek, terselip luka yang digoreskan amat mendalam.
“Aku..
akan menjual rumah ini dan memebawa ibuku ke panti asuhan itu. Da, kami akan
tinggal disana. Aku tak tahu… harus melanjutkan sekolahku atau tidak..” Ali
terisak sambil terus menangis. “Aku tidak mempunyai biaya. Mungkin hasil
penjualan rumah ini akan aku pergunakan untuk pengobatan ibu saja..” kata Ali
sambil terus terisak.
“Tidak
Ali. Kamu tidak boleh putus sekolah. Kami akan membantumu. Tenanglah, Ali.
Sekarang, aku minta kamu pikirkan saja pengobatan ibumu. Dan.. aku minta.. kamu
harus berubah. Aku ingin kamu seperti Ali yang dulu. Ali yang ceria, Ali yang
cerdas dan Ali yang selalu kami banggakan” kataku menghibur sembari tersenyum
kepada Ali.
Lia
juga ikut tersenyum. Aku dan Lia bertatapan lalu mengangguk. Inilah gunanya
sahabat. Selalu ada kapan pun kita butuhkan. Dan yang akan memikul beban
bersama. Ali, kamu tidak akan sendirian..
batinku tersenyum.
“Kalian..
begitu baik padaku. Terimakasih.. terimakasih sahabatku..” kata Ali sembari
mengusap air matanya dan tersenyum. Senyuman itu kembali lagi. Senyuman yang
telah lama hilang dari wajah seorang Ali. Senyuman kebahagian yang
menghangatkan hati kami, sahabatnya. Aku pun membalas senyumannya.
***
Satu
tahun kemudian…
“Ayah..
Ali datang..” kata Ali sambil tersenyum. “Ayah, apa kabar? Ali datang bersama
ibu. Kami sangat merindukan ayah. Kami disini baik-baik saja, yah..” Ali
menghela nafas. “ Dulu.. ayah ingin Ali masuk sekolah favorite kan, yah?
Sekarang Ali bersekolah disana, yah. Sekolah impian kita” Ali tersenyum
disambut senyuman hangat dari sang ibu. “Maafin Ali, yah.. selama ini Ali tidak
bisa menjaga ibu dengan baik. Tapi Ali janji, akan membuat ibu selalu
tersenyum…” ibu Ali yang sedang duduk di kursi roda, mengelus kepala Ali dengan
lembut.
“Aliiiii….”
Panggilku dan Lia yang disambut lambaian tangan Ali dan senyuman kas Ali dan
ibunya. “Apakah sudah siap? Hari sudah semakin gelap” kata Lia kepada Ali dan
ibunya.
“Baiklah..”
jawab Ali. “Ayah.. Ali dan ibu pulang dulu ya.. Ali janji akan selalu
mengunjungi ayah.. sampai jumpa, ayah..” kata Ali kepada sebuah batu nisan.
Nisan ayahnya. Kami pun beranjak pulang dari pemakaman.
Semenjak
kejadian malam itu, Ali berubah kembali menjadi Ali yang dulu. Sekarang, Ali
dapat melupakan keterpurukannya. Dan, Ali pun menepati janjinya.
Kami
akan selalu bersama.. di sisi Ali. Dan dibalik sosoknya selama ini.. dia tetap
seorang Ali..
~SELESAI~
Enam Puluh Detik
ENAM
PULUH DETIK
Pagi hari yang cerah, sang mentari
menyinari bumi atau alam. Aku datang ke sekolah bersama temanku, Lia, sambil
bercanda.
Setelah sampai di sekolah, jam
menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel pun berbunyi bertanda pelajaran akan segera dimulai.
Aku masuk ke kelas bersama
teman-temanku yang lain kelas 9. Tak lama kemudian, masuklah Bu Butet ke kelas
kami.
Ega siketua kelas kami, menyiapkan
kelas dan memberi salam kepada Bu Butet.
“Selamat siang, bu” ucap kami membentuk
paduan suara.
“Selamat siang” jawab Bu Butet.
Tetapi, mata Bu Butet tiba-tiba
tertuju pada tas di samping Ega, milik Ali. Tetapi, orang nya tidak ada.
“Kemana Ali, Ega ?”.
“Saya tidak tahu, bu. Tadi pagi ada”
kata Ega kepada Bu Butet.
“Tidak biasanya Ali seperti ini. Ada
yang tahu kemana Ali ?” Bu Butet bertanya kepada teman-teman seisi kelas.
Kami hanya dapat menggeleng, menjawab
pertanyaan Bu Butet.
“Baiklah, kita mulai saja pelajaran
ini sambil menunggu Ali” jelas Bu Butet kepada kami.
Bu Butet memulai pelajaran. Pelajaran
telah dimulai, namun Ali tidak kunjung datang. Tidak seperti biasanya Ali
seperti ini. Ali tidak pernah mempunyai niat untuk membolos. Ali bahkan
tergolong anak yang cerdas dan patuh.
‘Kemana Ali
sebenarnya ?’ kataku dalam hati. Aku mulai khawatir. Aku
takut jika sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Perasaanku mengatakan bahwa
sesuatu telah terjadi pada Ali, menambah kekhawatiranku.
‘Sebaiknya,
aku mencarinya sewaktu istirahat nanti’ usulku dalam hati.
Bel pun berbunyi, tanda waktu untuk beristirahat
dari pelajaran yang melelahkan. Aku bergegas untuk mencari Ali.
“Ivaaann..” teriak seseorang dari
belakang, mengagetkanku. Aku sontak menoleh, mencari tahu siapa yang memanggil
namaku. Aku melihat seseorang melambaikan tangannya sambil tersenyum kepadaku. Kevin.
Aku tersenyum dan membalas lambaian
tangan Kevin. Kevin berlari menghampiriku.
“Kita cari Ali bersama-sama. Walau
bagaimana pun Ali tetap sahabat kita van” dalam hati aku membetulkan perkataan
ivan. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan ivan.
Kami mulai dengan menyusuri
lorong-lorong sekolah. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Ali.
Kami pun tidak menyerah. Kami meneruskan
pencarian kami ke perpustakaan, UKS, laboratorium IPA, hingga lab. komputer.
Tetapi, hasilnya tetap tidak ada.
“Aku tahu dimana Ali” kata Kevin
misterius. Kevin pun menyeretku ke sebuah pohon di belakang sekolah, tempat
biasanya aku-ivan-kevin berkumpul dan bercanda gurau.
Mataku mulai menjelajahi setiap inchi
daerah sekitar pohon ini. Kevin melakukan hal sama denganku.
Tiba-tiba, tatapan mataku terantuk
pada sebuah benda. Bukan, bukan sebuah benda. Namun, sebuah tangan manusia.
Aku memanggil Kevin dan mengajaknya
untuk mendekat. Jarak diantar kami dan tangan tersebut semakin sempit. Hingga,
tangan itu semakin jelas.
“Ya Tuhan, Ali… apa yang terjadi
padamu?” aku sontak kaget melihat pemilik tangan tersebut. Ternyata, Ali
terbaring di bawah pohon ini. Ivan mulai membangunkan Ali. Ali tidak kunjung
bangun.
Aku mulai khawatir akan keadaan Ali.
Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang begitu lemas membuat rasa khawatirku
semakin meningkat.
Aku mencoba mendengar suara detak
jantung Ali. Jantung Ali berdetak begitu lambat dan lemah. Seakan-akan
menunjukkan bahwa pemiliknya dalam keadaan darurat.
Tanpa berpikir panjang, aku dan Kevin
mencoba memanggil beberapa teman dan guruku. Guru-guruku menyuruh kami untuk
membawa Ali ke rumah sakit. Kami membawa Ali menggunakan mobil seorang guru
kami.
Sesampai di rumah sakit, Ali langsung
saja ditangani oleh beberapa suster dan seorang dokter di ruang UGD.
“Tenanglah, Ali pasti akan baik-baik
saja” kata seorang guru kami mencoba menenangkan aku dan Kevin. Aku dan Kevin
hanya dapat terdiam, sibuk dengan pemikiran kami masing-masing.
Kami menunggu cukup lama hingga, dokter
keluar dari ruangan tersebut. Kami pun berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan teman saya, dok?”
tanyaku begitu cemas.
“Keadaan pasien tersebut.. koma dan..
kritis..” aku membekap mulutku, tidak percaya. Aku tidak menyangka, jika Ali
akan seperti ini.
“Pasien tersebut.. mengalami gagal
jantung. Dia sempat mendapat donor jantung, namun jantung tersebut kembali
tidak berfungsi.. kemungkinan dia hanya dapat bertahan selama dua hari
kedepan.. kalian sudah bisa menjenguknya. Saya permisi” dokter itu pergi
meninggalkan kami yang hanya terdiam mencerna kata-kata dokter tersebut dan
diikuti oleh suster-suster yang sedari tadi berdiri di belakang dokter
tersebut.
Aku dan Kevin menyeret langkah kami
masuk ke dalam ruangan itu. Tampak Ali yang sedang terbaring lemah dengan wajah
yang pucat. Kami menghampirinya.
Aku tidak sanggup untuk tidak
menangis. Air mataku telah tumpah menjadi aliran sungai kecil. Kevin masih saja
diam tidak bergeming, menatap nanar ke arah Ali.
“Gagal jantung… mengapa harus Ali
yang mengalaminya? Ciihh..” kata Kevin. Aku melihat sebutir air mata mulai
turun membanjiri pipi Kevin. Kami mulai menangis di hadapan Ali yang sedang
terbaring koma.
‘Ali..
cepatlah sadar..’ hatiku berkata sambil menangis.
***
Dua hari kemudian ..
“Hai bro. Aku dan Ivan datang. Cepat
sadar dong bro.. biar kita bisa ngumpul lagi.. aku kangen sama loe..” kata
Kevin lembut kepada Ali yang masih saja terbaring lemah.
“iya bro.. aku bawa buah kesukaan loe
nih..” aku memberi senyum pada Ali. Tetapi tidak ada balasan.
“Cepatlah sadar kawan..” kataku
lirih.
***
Aku merasakan ada sesuatu yang
bergerak mengenai kepalaku. Aku pun membetulkan posisiku, dari yang tidur
sambil menutup kepala ku di atas tangan yang terbuka, ke posisi duduk.
Aku sontak kaget melihat apa yang
baru saja terjadi. Ali baru saja menggerakkan tangannya. Aku langsung saja
membangunkan Kevin.
“Ivaannn… Kevinn..” panggil Ali
begitu lirih. Aku dan Kevin menghampiri Ali. Wajah Ali masih saja pucat. Untuk
berbicara saja Ali harus mengeluarkan sebagian dari tenaganya.
“Kami disini Ali.. bicaralah” kataku
lembut.
“Maa.. maafff.. aakk.. aakuu..
tiiddaakk bbiissa mmeenjaadii teemaan yyangg baiikk..” kata Ali dengan begitu
perlahan. Nafasnya juga masih tersengal-sengal.
“Aakkuu.. aakuu raasaa akuu
tiiddaakkk akkaaan laaammaa laagii.. seelaaamatt tiinnggaaall tteeemaann..”
bunyi mesin pedeteksi jantung yang terdengar panjang. Menandakan sang empunya
telah pergi untuk selama-lamanya.
Aku dan Kevin terdiam, hingga dokter
datang dan memberitahu kami bahwa Ali telah tiada.
Ali yang ceria dan periang kini telah
dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tidak aka nada lagi yang jail kepada kami, dan
tidak akan ada lagi cengiran lebar tanpa dosa itu.
Semua hilang seperti air mata yang
mulai meluncur di pipiku. Enam puluh detik disisa hidup Ali, Ali tetap
mengingat kami sebagai sahabatnya. Begitulah Ali.
Ali.. mungkin kamu tidak berada di
sampi kami, namun aku tahu bahwa kamu selalu ada di hati kami. Terimakasih Ali,
atas persahabatan yang begitu indah..
~SELESAI~
Langganan:
Postingan (Atom)