Aku menatap lama
wajahnya yang tengah asik dengan film di latopnya itu. Wajahnya memang tidak
tampan. Alis tipis yang menaungi mata sipitnya yang akan membentuk bulan sabit
ketika tertawa. Bibir tebal yang sering kali mencebik kesal ketika keinginannya
tidak tersampaikan. Dan tatapan teduh yang selalu bisa membuatku merasa pulang
ke ‘rumah’.
Sudah lima tahun, dan
tidak ada yang berubah. Rasanya
perjalanan kisah kami sudah cukup panjang bagi orang lain, tapi tidak bagi
kami. Perjalanan kami masih jauh, masih banyak bebatuan yang harus kami lewati.
Masih banyak badai yang harus kami terjang bersama. Dan rasanya semuanya tidak
semudah yang terlihat.
Cemburu, kesal, kecewa,
terluka dan lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari.
Dia, Joshua Theodorus,
lelaki populer yang sering digandrungi perempuan. Banyak adik kelas yang dengan
senang hati berdekatan dengannya. Banyak perempuan yang ingin berteman
dengannya.
Dan aku, Nayla Danisa
Putri, perempuan pendiam yang bahkan tak dikenal oleh murid sekolahku sendiri. Dikenal
pun karena tittle-ku sebagai pacar
Joshua.
Joshua merupakan
seorang atlet basket di sekolah. Tentu saja hal itulah yang membuatnya dikenal
oleh banyak.
Tidak ada yang tahu,
rasanya menjadi kekasih seorang Joshua. Cemburu yang harus ditekan sedalam-dalamnya
melihat banyak perempuan senang mencari perhatiannya, kesal karena merasa
terabaikan hingga sedih karena sedikitnya waktu yang bisa kami habiskan
bersama.
Kadang aku bingung,
kenapa ia memilihku diantara banyak perempuan di luar sana yang pastinya jauh
lebih baik dari pada diriku.
Aku bertanya padanya, “kenapa
aku?”
“Kenapa kamu? Bisa kamu
jelaskan apa maksudnya?”
“Maksudku, kenapa aku
yang kamu pilih?”
Sejenak ia menatapku
heran, “loh, emang kenapa jika aku memilih kamu?”
Aku merengut kesal
dengan pertanyaanku yang dijawab dengan pertanyaan kembali olehnya. “kamu ‘kan
terkenal, semua orang tahu kamu. Banyak juga yang diam-diam jadi penggemar
kamu. Dan pastinya, mereka jauh lebih baik dari aku,” aku meliriknya sejenak. “kenapa
kamu tetap milih aku diantara banyak
perempuan yang bersedia untuk berdekatan dengan kamu?”
Joshua mengangkat
bahunya cuek, ia tidak peduli soal perempuan lain yang rasanya sedikit
menganggu kehidupan sehari-harinya. Risih, jika kalian ingin tahu.
“Jangan tanyakan
padaku, Nayla, jelas aku tidak tahu alasannya.”
“Lalu aku harus
bertanya pada siapa, jika bukan pada kamu?” ucapku sedikit kesal padanya.
Joshua berpaling dari
laptop di hadapannya. Ia memutar tubuhnya dan kini kami saling berhadapan satu
sama lain. Ia menatapku dengan mata teduhnya itu, “tanyakan pada hatiku, kenapa
ia mau terjebak dalam hati yang selalu merasa dirinya tak pernah pantas untuk
dicintai.”
Pipiku bersemu merah mendengar
jawabannya. Aku tak menyangka Joshua akan menjawab dengan jawaban seperti itu. Aku
kira, ia akan mendiamkanku seperti sebelumnya, ketika aku bertanya hal yang
sama padanya.
Joshua sudah berbalik
badan dan kembali menonton di alptopnya. Mungkin baginya, jawabannya hanyalah
jawaban tentang apa yang terpikir
olehnya tapi tidak untukku. Rasanya, ada secerca harapan untuk hatiku menjadi lebih
kuat lagi, lebih dalam lagi untuk mecintainya.
Dan hati ini sudah siap
untuk menghadapi badai yang akan mempora-porandakan setiap perjuangan yang ada.
Dan tanpa Joshua
sadari, senyum haru terbit begitu saja di wajahku.