Kamis, 12 Desember 2013

Cinta yang Tulus

Kamu egois. Selalu mementingkan diri sendiri. Kamu menyuruhku untuk ini dan itu, aku tidak mengeluh. Tapi kenapa sedikit saja kesalahanku selalu kamu permasalahkan? Aku lelah, bukan berarti aku menyerah.
Aku ingin kamu dengan sejuta kenangan manis kita. Kita saling mencintai, ‘kan?
Lalu, kenapa hanya aku yang berlari?
Kenapa hanya aku yang melindungimu dengan sejuta pisau mengahantam punggungku?
Kamu begitu tidak peduli padaku, walaupun aku tahu, diam-diam kamu memperhatikanku. Aku tahu, dan aku ingin kamu menunjukkannya, tidak hanya dalam diam saja.
Apa aku harus pergi terlebih dahulu, agar kamu tahu mengenai perasaanku?
Apa aku harus menjauh dan mengindar?
Apa aku harus berhenti berlari mengejar yang tidak pasti?
Aku tidak sanggup, karena aku.. mencintai kamu. Tidak ada yang lebih indah dari suara tawamu. Tidak ada yang lebih indah melihatmu senyum bahagia. Tidak ada yang lebih indah didunia ini selain tentang kamu. Tentang kita dan kenangan kita. Tapi, aku lelah hanya memperhatikanmu tertawa, tersenyum tanpa bisa menjadi pelaku dibalik semuanya.
Aku meringis ketika menyadari seberapa banyak kita tertawa bersama, dapat dihitung dengan jari.
Kenapa?
Apakah karena kita saling membahagiakan dalam diam?
Atau karena kita yang tidak bisa saling menunjukkan?
Aku mengerti..
Tanpa kata, kita dapat saling berbicara. Tanpa tidakan, kita saling mengerti. Dan itu karena kekuatan cinta tulus kita. Dan aku pahami, tidak ada yang lebih indah selain itu.

Jumat, 01 November 2013

Kamu yang Mengisi Hatiku

Aku mencintaimu dengan tulus
Yang hanya kau balas dengan air mata dipipiku
Aku berusaha menjadi yang kau mau
Tetapi kau menuntut lebih

Sebesar apa pun aku mencoba
Kau tetap memakiku
Sebesar apa pun aku bertahan
Aku tetap goyah, tidak ada penyangga

Aku melindungimu dengan kesetiaan
Yang kau hargai dengan penghianatan
Tiada sedikit pun penyesalan disetiap rentetan katamu

Kau bagaikan racun dan madu disaat yang bersamaan
Yang membunuh dan pemanis diwaktu yang bersamaan

Terkadang, aku lelah untuk penantian beriring dengan berubah menjadi yang kau mau
Aku lelah, karena hanya aku yang berlari
Dan aku lelah, karena hanya aku yang memperjuangkan

Minggu, 06 Oktober 2013

Luka

Jangan ada benci
Ataupun caci
Jangan ada tangis
Ataupun isakan

Lalu kini, kenapa masih saja ada air mata?
Kita hanya mengatahui, tidak mengenal

Lalu kamu hanya bisa merebut tempat dihatiku
Menjadikannya tempat ternyaman milikmu
Dengan mengisi dengan tinta luka
Menggoreskannya sesuka hatimu
Seakan hal itu, membuat senyummu merekah
Membiarkan aku bertahan demi semuanya
Demi kesetiaan
Demi ketulusan
Dan demi cinta...

Senin, 19 Agustus 2013

Perbedaan

Bagi setiap orang, pasti perbedaan adalah suatu penghalang dalam hubungan. Perbedaan seakan menjadi tembok baja, yang menghalangi jalan. Perbedaan seakan membuat jalan yang mulus, malah berakhir buntu. 'Lalu, mengapa selalu ada perbedaan diantara setiap hubungan?'
Dulu, seorang temanku, pernah mencurahkan kisahnya padaku mengenai 'perbedaan'. Dulu, aku masih terlalu dini untuk mengerti apa itu perbedaan. Namun, entah darimana, aku mempelajarinya sendiri. Aku cukup belajar dari beberapa teman dekatku, yang sering menceritakan, betapa 'perbedaan' itu, seakan menjadi penghalang dikehidupan mereka.
Aku sedikit tidak setuju, jika, 'perbedaan' menjadi  penghalang. Bukan berarti aku menyukai perbedaan. Malah, dengan perbedaan, aku belajar apa yang disebut dengan kasih sayang yang tulus.
Kita ambil saja contoh dari hal yang sederhana. Ayah dan Ibu kita tentu memiliki perbedaan dengan diri kita masing-masing, sekali pun Ayah dan Ibu adalah orang tua kita. Dari segi usia, watak, dan pemikiran tentu berbeda. Bukankah denngan perbedaan kita bisa saling berbagi, meghargai, dan menghormati? Setiap hal kecil yang Tuhan ciptakan, selalu mempunyai maksud. Perbedaan diciptakan Tuhan, agar kita tidak hidup dengan persamaan. Andai kata, perbedaan adalah pewarna dalam hidup. Jika, hanya ada persamaan, maka hidup akan hanya berisi hitam dan putih.
Seseorang yang sedang mencurahkan isi hatinya, berkata kepadaku, "Aku tidak ingin ada perbedaan di dunia ini!" kata-katanya begitu tegas terdengar ditelingaku kala itu. Aku hanya tersenyum, membelai rambut hitam sebahu milik teman dekatku ini.
"Kalau tidak ada perbedaan, kamu tidak akan menangis dan mengadu padaku pada saat ini."
Dia terdiam, membenarkan ucapanku. Teman dekatku ini, sedang dilema, atau sebut saja 'galau'. Ia bingung untuk memilih, antara melanjutkan hubungannya yang dengan perbedaan, atau memilih mundur dan mengakhiri semuanya. Hubungan yang telah dirajut oleh teman dekatku ini, memang terbilang cukup lama. Bahkan kekasihnya saja, sudah mempunyai rencana jika lulus sekolah nanti, akan langsung melamarnya. Namun, Tuhan berkata lain. Perbedaanlah yang memisahkan mereka. Perbedaan akan keyakinan yang membuat kedua manusia ini, tidak dapat menjadikan 'aku dan kamu = kita'. Kedua keluarga keberatan, dan keukeuh terhadap keyakinan masing-masing. Perbedaan menjadikan jalan masa depan ‘mereka’ seakan buntu. Ia dan kekasihnya memang saling menyayangi.
“Kamu tahu?” aku kembali mengeluarkan suaraku, “Hidup tanpa perbedaan itu tidak seimbang.”
Teman dekatku itu mengerutkan keningnya, tidak mengerti akan jalan pembicaraanku. Aku berusaha menahan kekehanku, ketika melihat wajah kebingungannya.
“Contohnya saja kamu. Jika, kamu dan kekasihmu bersatu dalam keyakinan yang berbeda, bukankah itu mempersulit hubunganmu dengan dirinya? Kamu tidak akan leluasa menceritakan masalah yang tengah kamu hadapi. Kamu pasti akan merasakan ada tembok yang menjadi batasanmu. Dan, kamu tidak bisa melaksanakan ibadah bersama. Namun, dengan perbedaan itu, kita bisa belajar untuk menghargai keyakinan satu sama lain. Benar bukan?”
Aku menoleh kearahnya. Ia hanya terdiam mencera setiap kata yang kulontarkan. “Pebedaan itu ada, bukan untuk dimusuhi. Tapi, berdamailah. Jadikan perbedaan teman yang bisa kamu terima. Soal jodoh, memang ditangan Tuhan, tapi kita yang menentukan dan Tuhan yang merestui. Kamu berdoalah, katakana pada Tuhan, lelaki seperti apa yang kamu minta. Lalu, carilah yang pantas. Dan katakana ‘Dialah orangnya, Tuhan.’, ketika kamu sudah menemukan yang sesuai dengan keinginanmu. Maka, Tuhan akan melihat, jodoh itu pantas atau tidak untukmu. Mungkin saja kamu dengan dia belum berjodoh. Tuhan memang memberikan perbedaan, namun, perbedaan yang dapat kamu lengkapi.”
Ketika aku mengucapkan rentetan nasihat tersebut, teman dekatku itu memelukku. “Terimaksih. Kamu menyadarkanku.”
Aku tersenyum. Perbedaan memang selalu diciptakan. Tidak ada manusia yang sempurna, maka dari itu adanya perbedaan. Jangan menghindari perbedaan, karena tidak selamanya persamaan itu, apa yang kamu butuhkan. Dan Tuhan, akan mempertemukan kamu dengan perbedaan yang dapat kamu isi dan lengkapi, sehingga menjadi sempurna.

Jumat, 02 Agustus 2013

Kita Sahabat, bukan?

"Kita sahabat, bukan?"

Kalimat itu menjadi makanan sehari-hari hubungan aku dan kamu. Kalimat yang memperjelas betapa eratnya ikatan antara aku dan kamu.
Hampir setiap waktu, aku dan kamu menghabiskan dengan bercenda gurau, berbagi keluh dan kesah. Tak ayal jika jarak antara aku dan kamu, lengket seperti lem. Bahkan banyak diantara orang-orang sekitar mengira jika aku dan kamu adalah anak yang terlahir kembar. Kamu bahkan sering menghabiskan malam dengan berada di rumahku, begitupun sebaliknya. Aku sering sekedar untuk mengajakmu menonton DVD terbaru yang baru saja kubeli. Aku dan kamu membuat janji untuk hidup selalu bersama. Tapi, apakah aku dan kamu akan terus seperti ini?
Pertanyaan itu terjawab, ketika kamu memiliki kekasih baru. Kini, kita tidak lagi menghabiskan waktu 'berdua' melainkan 'bertiga', dengan dia, kekasihmu. Bahkan tidak ada lagi jalan berdua, melainkan bertiga. Tidak ada lagi waktu yang kita habiskan hanya untuk berbagi cerita. Kini, hanya ada kamu dan dia, tersisa aku sendiri dibalik punggungnya. Aku hanya dapat menunggu untuk kamu menoleh sejenak, hanya sejenak. Lama-kelamaan, aku lelah. Aku lelah hanya berada dibalik punggungnya, dan aku memilih mundur dari persahabatan ini. Aku tidak memiliki harapan atas ini, persahabatan aku dan kamu kini tinggal kenangan dan nama saja. Kini, aku sudah mulai terbiasa dengan 'kesendirian', meskipun, hampa yang kurasakan.
Tiba-tiba, kamu hadir kembali. Muncul di depan pintu rumahku dengan air mata yang membasahi wajahmu. Tanganku tak kuasa untuk menghapus air matamu. Kupeluk kamu dalam dekapan hangat seperti dulu. Kamu menangis terisak dengan hebatnya, menceritakan betapa sakitnya hatimu disakiti oleh kekasih yang kamu sayangi. Kini, kamu pun ikut merasakan sakitnya hatiku. Kata maaf beribu kali terlontar dari mulutmu, yang tentu saja, kujawab dengan anggukan kepala.
"Kita sahabat, bukan?" Kalimat itu kembali kulontarkan kepada kamu. Kamu tersenyum hangat dan kembali ceria. Aku, sahabatmu, akan selalu berada disampingmu, dalam sedih maupun senang, dalam suka maupun duka. Kita akan selalu bersama, seperti janji yang dulu aku dan kamu buat. Indah, bukan?

Minggu, 21 Juli 2013

Ketika setiap mata tidak memandangnya



Ketika setiap mata tidak memandangnya

Aku bertemu dengannya
Seseorang yang bersahabat dengan kesedihan
Seseorang yang berteman dekat dengan kesepian
Seseorang yang sudah terjerumus akan masa lalu

Aku menariknya, namun terlepas
Aku membantunya bangkit, namun genggamannya tak kuat

Sorot matanya penuh dengan kelam
Seakan haus akan kasih sayang
Seakan meminta cinta

Dia terlihat dimata
Namun tidak terlihat dihati
Dia dirasakan di dunia ini
Namun tidak diterima
Apakah sesulit itu?
Tidak ada yang memandangnya
Tidak ada yang mendengarkannya

Hampa..
Hidup yang bergelut akan kesendirian

Jumat, 21 Juni 2013

Apa keinginan terbesarmu?

'Apa keinginan terbesarmu?"

Kalimat itu terus berputar. Sebenarnya, aku tak tahu jawaban atas kalimat itu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan ketika seseorang melontarkan kalimat itu kepadaku.
Keinginan terbesar? Membahagiakan orang tua? Bukan. Itu jawaban yang sangat klise menurutku. Bukankah itu kewajiban? Aku tak pernah menganggap 'membahagiankan kedua orang tua' adalah keinginan terbesarku. Bukan, bukan karena aku anak durhaka, yang akan mencampakkan kedua orang tuaku begitu saja. Tapi karena memang aku 'harus' melakukannya. Apapun yang terjadi, aku 'harus' tetap melakukannya.

Suatu ketika, aku kembali mendengar kalimat itu. Seorang guruku pernah bertanya kepadaku begini, 'Apa keinginan terbesarmu?" Disitu aku hanya diam. Tak tahu apa yang harus kujawab. Tak satupun ide kudapat dari otakku yang sudah berputar-putar, mencari jawaban yang tepat. Akhirnya, aku hanya menggeleng pasrah ketika tak satupun kalimat jawaban melintas diotakku.
"Kau tahu? Aku ingin sekali dikenal oleh banyak orang." Guruku mulai bercerita, "Bukan. Bukan untuk menjadi artis atau pun seseorang yang gemar 'mengumbar'."
"Aku ingin, ketika seseorang bertanya pada orang lain mengenai siapa diriku, orang itu akan menjawab, 'Oh, dia yang kemarin menolongku' atau 'Pahlawan yang baru saja menyelamatkan satu nyawa'. Bukankah itu lebih menyenangkan?" Guruku tersenyum, "Bukankah kita hidup untuk orang lain? Maksudku, untuk apa hidup jika yang dipikiran kita hanya diri sendiri, dan mencoba untuk egois? Tidak akan ada gunanya."
Guruku sedikit berdeham sebelum melanjutkan bercerita, "Hidup ini dilambangkan 'hitam dan putih', oleh sebab itu, warnailah dengan berbagai macam warna, dengan serapi mungkin. lebih terlihat indah, bukan?"

Cerita guruku itu terus saja terngiang dan membuatku berpikir. Aku mengerti, dan aku tersadar. Hidup hanya sekali,, lantas untuk apa disia-siakan, dan menunggu hal yang tak pasti? Dan lantas, untuk apa menginginkan yang sudah jelas tak dapat kita raih?
Kita hidup untuk seseorang. Orang lain dan seseorang yang akan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk kita. Lantas, berhentilah mengeluh. Berhentilah untuk berharap dan menunggu yang tak pasti. Waktu terus berjalan, dan tidak akan pernah bisa terulang. Face it, right?

Senin, 10 Juni 2013

Bersyukur

Bersyukur

Ketika itu hiduplah sepasang suami istri yang hidup bahagia di sebuah kota besar. Pasangan suami istri ini terlihat bahagia. Keadaan ekonomi yang menunjang pun membuat hidup mereka semakin harmonis.
Pada suatu ketika, ditengah-tengah keluarga bahagia ini, mendapatkan kabar bahagia. Sang istri kini mengandung anak pertama. Kebahagian pun menyelimuti keluarga ini.
Sang istri terus memperhatikan segala tindakan dan makannannya demi menjaga kesehatan sang bayi. Namun disisi lain, sang suami kerap kali melakukan kecurangan dalamproyek prusahaannya. Sang suami sering memakan uang suap dan sejenisnya.
Sampai pada akhirnya, Tuhan menegur keluarga ini. Bayi yang dalam kandungan istrinya, terlahir cacat. Sepasang suami istri ini pun terus mempeributkan masalah ini. Sang suami merasa jika kelahiran bayi yang cacat ini merupakan aib bagi keluarga terpandang mereka.
Sang suami pun memutuskan untuk memberikan anak pertamanya kepada sepasang pembantu yang telah melayani mereka sejak lama. Sang istri yang awalnya menolak, mau tak mau harus menyerahkan buah hatinya itu. Sang istri tak dapat menahan tangisannya ketika bayinya dibawa pergi jauh dari kehidupan keluarga mereka.


15 tahun kemudian
Sepasang suami istri itu tidak juga mendapat keturunan lagi setelah kejadian itu. Sepasang suami istri ini pun merasa sangat menyesal telah membuang anak  kandungnya sendiri. Mereka selalu bersabar dan minta pengampunan pada Tuhan Yesus. Sekarang pun, mereka sudah rajin untuk mengikuti ibadah setiap minggunya. Hingga pada suatu ketika, sepasang suami istri ini tidak sengaja bertemu dengan kedua mantan pembantunya yang merawat bayi mereka.
Lalu sang pembantu membawa sepasang suami istri ini ke sebuah gereja. Gereja ini terlihat begitu sederhana. Namun, pekarangan yang terawat memberi kesan tentram. Seorang gadis terlihat sedang disalami oleh anak-anak kecil yang tersenyum bahagia.
Gadis itu terlihat sangat cantik dengan balutan baju serba putih. Baju khusus seorang biarawati. Sang istri yang menyadari bahwa gadis itu putri kandunganya, langsung berlari memeluk anak gadisnya. Penantian sepasang suami istri ini pun terasa terbayar lunas.
Sang gadis yang tidak mengenal siapamengernyit kebingung. Dan menatap kepada sang ibu yang selami ini merawatnya dengan pandangan tanda tanya.
"Dia ibu kandungmu yang selama ini kuceritakan. Tuhan Yesus mendengar doamu." Kata sang ibu.
Gadis itu menatap sang istri dengan pandangan tak percaya, sedih, senang, dan terharu. Sungguh, Tuhan mendengar penantiannya selama ini. Penantian akan kesadaran dan pertobatan. Gadis itu memeluk erat sang istri, yang disusul dengan pelukan sang suami.
Kini, sepasang suami istri itu telah sadar. Bersyukurlah apapun yang Dia kasih kepada kita. Buruk ataupun Baik. Senang ataupun Sedih. Karena Kasih-Nya, jauh tak ternilain harganya.

Rabu, 05 Juni 2013

Bertahan

Bertahan

Tahukah kamu apa yang kurasakan sekarang?
Sakit, disini, tepat dihatiku
Bisakah kamu mendengar rintihan dan jerita suara hatiku?

Aku terjerat
Terjerat akan ketidak pastiannya hubungan ini
Terjerat akan kata 'menunggu'
Tidakkah kamu mengerti bahwa keadaan ini menyakitkan?
Bukan kamu tapi aku

Hanya aku
Tentu, hanya aku yang bertahan
Bisakah kamu melihatku yang mempertahankanmu disini?
Bisakah kamu mengintip sekilas wajahku?
Setidaknya, hargai aku

Lihatlah wajahku yang saat ini bertahan
Bertahan hanya demi satu kata
Jika memang tak sanggup
Untuk apa dipertahankan?
Aku wanita
Yang butuh kepastian
Yang mempunyai batas kesabaran untuk bersabar
Akankah terus begini?

Kumohon..
Aku sudah terlalu lelah
Lelah akan rasa sakit ini
Lelah yang terus menunggumu
Lelah akan kegantungan ini
Tidakkah kamu lelah?
Tentu saja tidak
Karna disini hanya aku yang merasakan




Ini kubuat terinspirasi dari kisah nyata seorang temanku. Maaf, jika ini membuat air mata kembali turun. Aku hanya mencoba ikut merasakan. Terimakasih.

Kau dan Aku.... Sahabat

 Kau dan Aku.... Sahabat

Kau dan aku sahabat
Kau menuntunku kepada pelangi indah sehabis hujan
Kau memberikan cahaya ketika ruangan terasa gelap
Kau menendang segala kerikil yang menghalau jalan kita
Kau bahkan menuntunku ketika kakiku tak lagi sanggup untuk berjalan

Namun semuanya sirna
Ketika dia datang
Dia yang mewarnai hidupmu
Hanya hidupmu

Kau meninggalkanku demi teman barumu
Teman yang baru kau kenal beberapa hari
Apakah persahabatanmu dengan 'dia' lebih berarti dibanding denganku?

Kulihat senyummu semakin berkilau
Bukan, bukan senyuman itu
Bukan senyuman yang selama ini kau beri
Senyuman itu... lebih bercahaya

Kini hanya jalan setapak yang kulewati
Tidak ada lagi jalan raya yang besar yang 'kita' lewati dulu
Batu-batu pun memenuhi jalan ini
Tak seperti jalan mulus yang beraspal yang kau tunjukkan dulu

Kosong
Kosong akan kecerian
Kosong akan tawa
Dan kosong akan arti persahabatan

Apakah seperti ini rasanya?
Sungguh, begitu menyakitkan
Aku lebih memilih sendiri dibanding merasakannya

Kau kembali
Kembali setelah dicampakkan olehnya
Kembali setelah kau merasakan sakit seperti yang kurasakan

Kau menangis dihadapanku
Mengucapkan maaf beribu kali
Apa yang harus kulakukan?
Haruskah aku memaafkannya?
Hati ini terlalu saktit untuk mengatak 'iya'

Namun tangan ini tak pernah sakit untuk menghapus air matamu
Namun bibir ini tak pernah sakit untuk tersenyum
Namun mata ini pun tak pernah sakit untuk ikut merasakan
Aku mengerti
Mengerti arti kata 'sahabat'
Bukankah ini arti sahabat sesungguhnya?
Tak ada kata kebencian
Selalu ada kata maaf
Dan akan selalu ada senyuman dibalik hati yang sakit

Selasa, 04 Juni 2013

Orang Ketiga

Orang Ketiga

Sebenarnya, apa arti dibalik kata 'Orang Ketiga'?
Apakah orang perusak hubungan?
Apakah orang penengah?
Dan apakah orang penghancur hubungan?
Itukah definisi mereka sesungguhnya?
Jika iya, bukankah itu terlalu kejam untuk disebut seperti itu?
'Dia' juga merupakan seorang manusia
Yang tak pernah tahu kapan hatinya akan berlabuh
Yang tak pernah tau kapan hatinya berdiam
Sesungguhnya ini tidak menjadi salah siapa pun jika suatu hubungan rusak akibat adanya 'Dia'
Salahkan pasanganmu yang tak setia pada hubungan ini
Salahkan cintanya yang tak lagi berhenti dihatimu
Tapi, jangan penah salahkan Tuhan atas semua ini!
Ini takdir
Takdir yang tak bisa diubah
Takdir yang menuntun kita untuk kejalan yang seharusnya kita tempuh
Bukankah tak selamanya ujung sebuah kisah berakhir bahagia?
Jika kalian hanya menginginkan berujung bahagia
Kalian egois
Egois kepada 'Dia' yang juga ingin bahagia
Bukankah dengan rasa sakit kita belajar arti hidup?
Lalu mengapa kalian mengeluh?
Mengapa kalian terus saja membuang air mata hanya untuk pasanganmu yang tak setia?
Belajarlah dari rasa sakit
Bukankah itu lebih baik daripada menangisinya?
Mungkin memang sulit
Namun apa salahnya untuk mencoba belajar dari rasa sakit itu?
Mungkin, pasanganmu bukanlah jodohmu
Mungkin saja, Tuhan sedang mentakdirkan 'Dia' bersama dengan pasangan meskipun dengan cara menyakitkan
Tapi percayalah, tak ada yang tak indah di dunia ini
Semuanya indah pada waktunya

Minggu, 02 Juni 2013

Perpisahan





























Ini mengabadikan momen ketika perpisahan SMP. Disinilah bermula dimana kenangan manis dan pahit dimulai. Dimana persahabatn tumbuh dengan sendirinya, dan dimana pula keretakan tumbuh mengahncurkan. Cerita-cerita mengenai masa ini pun terus terjadi, seperti film yang tengah diputarkan. Kepahitan yang dibumbui dengan gula, membuat rasa lezat pada makanan. Begitu  pula dengan persahabatan. Semoga kisah kita tidak berhenti sampai disini.

Kenangan






Foto ini akan mengabadikan kenangan bersama teman yang sudah kukenal sejak kecil  ini. Kami tumbuh bersama dengan senang dan suka. Foto ini diambil ketika kami berlibur bersama ke Melayu beach, merayakan ulang tahun kumpulan di daeerah sekitar kami. Liburan ini sudah untuk kesekian kalinya kami lakukan,  mengingat kami yang telah bersama sejak kecil. Kami sering mengabadikannya lewat foto, tawa, dan juga berbagai macam permainan. Sungguh menyanangkan dan tak dapat dilupakan.

Minggu, 19 Mei 2013

Kasih Yesus kepada Manusia

Kasih Yesus kepada Manusia

  Sejak kecil aku berada di lingkungan yang tidak mengenal Tuhan. Aku selalu mengandalkan kekuatan pribadi dan percaya akan tahayul-tahayul. Keluarga mengajariku akan tidak adanya Tuhan di dunia. Keluargaku memang menganut Atheis. Keluargaku mengajarkanku untuk tidak bergumul dengan orang disana. Karena itulah, aku selalu saja menyindiri dari lingkungan, baik disekolah ataupun disekitar rumahku. Teman-temanku selalu menatapku ataupun menghinaku dengan sebutan 'aneh'. Karena itulah, aku tidak mempunyai teman.

  Hingga suatu ketika, gempa bumi melanda daerah kediamanku. Keluargaku meninggalkanku sendiri, yang masih berusia 6 tahun ini. Aku berlari sambil menangis mencari kedua orang tuaku. Beberapa bagian tubuhku sudah lecet terkena hantaman renruntuhan bangunan rumah yang tumbang. Aku melihat sejumlah orang berlari kesana sini berusaha meminta pertolongan. Aku hanya dapat menangis, berharap orang tuaku datang menolong. Tanpa kusadari runtuhan rumah tetanggaku, mengenaiku. Sehingga aku pun ikut tertimbun. Aku berusaha menahan rasa sakit akibat terjepit batu besar, mencoba menyerukan kedua orang tuaku.

  Aku masih mendengar bebrapa orang berteriak, berlari, menangis, dan meminta tolong. Tak ada satupun orang yang mau membantuku. Aku tidak dapat berbuat apapun, mengingat usiaku yang masih sangat kecil saat itu.
  Sampai akhirnya, aku melihat sinar diantar renruntuhan ini yang amat terang, hingga menyilaukan mataku. Aku sedikit menyipit dan menghalangi sinar tersebut dengan tanganku. Aku melihat sesorang yang tubuhnya bersinar mengulurkan tangan kepadaku, sembari tersenyum. Aku sedikit takut kala itu. Namun,  hati nuraniku berkata bahwa Dia adalah malaikat, yang berada di dongeng-dongeng, yang akan menolongku. Aku memberanikan diri untuk menyambut ularan tangan tersebut.
  Nyaman. Tentram. Seketika hatiku tenang. Seolah-olah aku mendapatkan hidup baru. Hidup yang lebih damai.
  Tak lama kemudian, sinar itu berganti dengan suara banyak orang yang menanyakan keadaanku. Aku hanya bisa memanggil 'Mama dan Papa'. Segerombolan orang itu berusaha mengeluarkanku dari situ. Sampai akhirnya, aku selamat dan keluar. Aku langsung digotong masuk kedalam ambulance yang telah disiapkan.
  Mataku mencari-cari keberadaan seseorang yang mengulurkan tangan-Nya kepadaku. Aku menangkap seberkas cahaya terang tadi dari arah lagit, hingga menjadi lenyap. Aku tersenyum menyadarinya.

  Lima Belas Tahun Kemudian.......

  Setelah kejadian itu, aku diangkat oleh keluarga kaya yang menganut agama Kristen. Semenjak itu aku belajar mengenal  Yesus, dan hidup dalam-Nya. Hingga suatu ketika, kekasihku yang notabene menganut agama yang sama dengaku, mengajakku untuk melakasanakan ibadah rutin setiap minggunya ke gereja. Aku melihat gereja ini begitu sederhana, tapi sangat menenangkan. Aku dapat merasakan Roh Kudus datang dan berada disini. Sama seperti setiap kali aku memasuki gereja manapun.
  Tatapan mataku terantuk pada sebuah patung Tuhan Yesus, yang tergantung manis didinding.
  "Kamu tau? Dia-lah yang menyelamatkanku, kala aku hampir saja mati saat gempa bumi" Ujarku kepada kekasihku yang berada disampingku.
  Kekasihku tersenyum. Mengucap syukur, hingga sampai saat ini, aku masih dapat bertemu dengannya, merasakan hangat kasih Tuhan, merasakan kasih sayang kedua orang tua angkatku, dan merasakan kasih terhadapa sesama. Tidak ada yang lebih indah selain 'KASIH'.

Arti Cinta



Arti Cinta

Terkadang aku lebih memilih untuk tidak merasakannya
Terlalu rumit
Melakukan pengorbanan yang belum tentu dihargai
Merasakan penghianatan

Yah, cinta..
Itu namanya
Membuat seberkas kenangan yang sulit untuk dihapuskan

Disisi lain..
Cinta mengajariku banyak hal
Mengajariku tentang air mata kesedihan
Mengajariku tentang air mata terharu
Sudah pantaskah aku untuk merasakannya?

Sabtu, 18 Mei 2013

Kekecewaan

Kekecewaan

Kecewa..
Benar, aku kecewa
Aku menangis
Yah, cuma itu yang dapat kulakukan

Sebuah kebenaran yang terungkap kala hati sedang remuk
Meremas begitu kuat
Mengoyak dengan sebilah pisau yang amat tajam
Tak mengenal bulu

Sesak..
Sesenggukan dengan air mata
Tak ada tangan yag menghapus
Kadang, kebenaran itu tak ingin kudengar

Jumat, 10 Mei 2013

Hati yang Tak Dapat Kumengarti

Hati yang Tak Dapat Kumengarti

Disaat ku menangis
Kau hanya terdiam
Disaat ku bahagia
Kau hanya tersenyum

Hatimu..
Tak dapat kumengerti

Sampai akhirnya
Aku memahaminya
Hatimu telah lama pergi
Menyisakan bayangan
Yang melekat dipelukanku

Bayanganmu

Bayanganmu

Suara itu..
Membuatku bahagia
Senyum itu..
Membuatku berdebar

Tak lagi kudengar
Tak lagi kulihat
Kini hanya ada bayanganmu

Aku menangis....
Sampai, dia datang
Menghapus air mata
Mengobati luka

Senyumannya...
 Mengubah segalanya...
Terimakasih

Kepedihan



Kepedihan

Ketika mentari  datang
Menggantikan sinar bulan
Ketika hawa dingin
Tergantikan oleh kehangatan

Taklagi kudapati seperti yang dulu
Telah tergantikan oleh genggaman tangan yang berbeda
Tak lagi suara kebahagian yang kudengar
Kini, jerit tangis menghibur pendengaranku

Aku tersadar
Hari lalu tidak bisa terulang
Aku hanya dapat menatapnya
Namun tak bisa menjangkaunya
Hanya bayangan
Yah, hanya bayanganmu yang kutemui di masa depan