Jumat, 02 Agustus 2013

Kita Sahabat, bukan?

"Kita sahabat, bukan?"

Kalimat itu menjadi makanan sehari-hari hubungan aku dan kamu. Kalimat yang memperjelas betapa eratnya ikatan antara aku dan kamu.
Hampir setiap waktu, aku dan kamu menghabiskan dengan bercenda gurau, berbagi keluh dan kesah. Tak ayal jika jarak antara aku dan kamu, lengket seperti lem. Bahkan banyak diantara orang-orang sekitar mengira jika aku dan kamu adalah anak yang terlahir kembar. Kamu bahkan sering menghabiskan malam dengan berada di rumahku, begitupun sebaliknya. Aku sering sekedar untuk mengajakmu menonton DVD terbaru yang baru saja kubeli. Aku dan kamu membuat janji untuk hidup selalu bersama. Tapi, apakah aku dan kamu akan terus seperti ini?
Pertanyaan itu terjawab, ketika kamu memiliki kekasih baru. Kini, kita tidak lagi menghabiskan waktu 'berdua' melainkan 'bertiga', dengan dia, kekasihmu. Bahkan tidak ada lagi jalan berdua, melainkan bertiga. Tidak ada lagi waktu yang kita habiskan hanya untuk berbagi cerita. Kini, hanya ada kamu dan dia, tersisa aku sendiri dibalik punggungnya. Aku hanya dapat menunggu untuk kamu menoleh sejenak, hanya sejenak. Lama-kelamaan, aku lelah. Aku lelah hanya berada dibalik punggungnya, dan aku memilih mundur dari persahabatan ini. Aku tidak memiliki harapan atas ini, persahabatan aku dan kamu kini tinggal kenangan dan nama saja. Kini, aku sudah mulai terbiasa dengan 'kesendirian', meskipun, hampa yang kurasakan.
Tiba-tiba, kamu hadir kembali. Muncul di depan pintu rumahku dengan air mata yang membasahi wajahmu. Tanganku tak kuasa untuk menghapus air matamu. Kupeluk kamu dalam dekapan hangat seperti dulu. Kamu menangis terisak dengan hebatnya, menceritakan betapa sakitnya hatimu disakiti oleh kekasih yang kamu sayangi. Kini, kamu pun ikut merasakan sakitnya hatiku. Kata maaf beribu kali terlontar dari mulutmu, yang tentu saja, kujawab dengan anggukan kepala.
"Kita sahabat, bukan?" Kalimat itu kembali kulontarkan kepada kamu. Kamu tersenyum hangat dan kembali ceria. Aku, sahabatmu, akan selalu berada disampingmu, dalam sedih maupun senang, dalam suka maupun duka. Kita akan selalu bersama, seperti janji yang dulu aku dan kamu buat. Indah, bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar