Senin, 16 Mei 2016

Kenapa Aku?

Aku menatap lama wajahnya yang tengah asik dengan film di latopnya itu. Wajahnya memang tidak tampan. Alis tipis yang menaungi mata sipitnya yang akan membentuk bulan sabit ketika tertawa. Bibir tebal yang sering kali mencebik kesal ketika keinginannya tidak tersampaikan. Dan tatapan teduh yang selalu bisa membuatku merasa pulang ke ‘rumah’.
Sudah lima tahun, dan tidak  ada yang berubah. Rasanya perjalanan kisah kami sudah cukup panjang bagi orang lain, tapi tidak bagi kami. Perjalanan kami masih jauh, masih banyak bebatuan yang harus kami lewati. Masih banyak badai yang harus kami terjang bersama. Dan rasanya semuanya tidak semudah yang terlihat.
Cemburu, kesal, kecewa, terluka dan lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari.
Dia, Joshua Theodorus, lelaki populer yang sering digandrungi perempuan. Banyak adik kelas yang dengan senang hati berdekatan dengannya. Banyak perempuan yang ingin berteman dengannya.
Dan aku, Nayla Danisa Putri, perempuan pendiam yang bahkan tak dikenal oleh murid sekolahku sendiri. Dikenal pun karena tittle-ku sebagai pacar Joshua.
Joshua merupakan seorang atlet basket di sekolah. Tentu saja hal itulah yang membuatnya dikenal oleh banyak.
Tidak ada yang tahu, rasanya menjadi kekasih seorang Joshua. Cemburu yang harus ditekan sedalam-dalamnya melihat banyak perempuan senang mencari perhatiannya, kesal karena merasa terabaikan hingga sedih karena sedikitnya waktu yang bisa kami habiskan bersama.
Kadang aku bingung, kenapa ia memilihku diantara banyak perempuan di luar sana yang pastinya jauh lebih baik dari pada diriku.
Aku bertanya padanya, “kenapa aku?”
“Kenapa kamu? Bisa kamu jelaskan apa maksudnya?”
“Maksudku, kenapa aku yang kamu pilih?”
Sejenak ia menatapku heran, “loh, emang kenapa jika aku memilih kamu?”
Aku merengut kesal dengan pertanyaanku yang dijawab dengan pertanyaan kembali olehnya. “kamu ‘kan terkenal, semua orang tahu kamu. Banyak juga yang diam-diam jadi penggemar kamu. Dan pastinya, mereka jauh lebih baik dari aku,” aku meliriknya sejenak. “kenapa kamu tetap milih aku diantara banyak  perempuan yang bersedia untuk berdekatan dengan kamu?”
Joshua mengangkat bahunya cuek, ia tidak peduli soal perempuan lain yang rasanya sedikit menganggu kehidupan sehari-harinya. Risih, jika kalian ingin tahu.
“Jangan tanyakan padaku, Nayla, jelas aku tidak tahu alasannya.”
“Lalu aku harus bertanya pada siapa, jika bukan pada kamu?” ucapku sedikit kesal padanya.
Joshua berpaling dari laptop di hadapannya. Ia memutar tubuhnya dan kini kami saling berhadapan satu sama lain. Ia menatapku dengan mata teduhnya itu, “tanyakan pada hatiku, kenapa ia mau terjebak dalam hati yang selalu merasa dirinya tak pernah pantas untuk dicintai.”
Pipiku bersemu merah mendengar jawabannya. Aku tak menyangka Joshua akan menjawab dengan jawaban seperti itu. Aku kira, ia akan mendiamkanku seperti sebelumnya, ketika aku bertanya hal yang sama padanya.
Joshua sudah berbalik badan dan kembali menonton di alptopnya. Mungkin baginya, jawabannya hanyalah jawaban tentang apa yang  terpikir olehnya tapi tidak untukku. Rasanya, ada secerca harapan untuk hatiku menjadi lebih kuat lagi, lebih dalam lagi untuk mecintainya.
Dan hati ini sudah siap untuk menghadapi badai yang akan mempora-porandakan setiap perjuangan yang ada.
Dan tanpa Joshua sadari, senyum haru terbit begitu saja di wajahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar