Kasih Yesus kepada Manusia
Sejak kecil aku berada di lingkungan yang tidak mengenal Tuhan. Aku selalu mengandalkan kekuatan pribadi dan percaya akan tahayul-tahayul. Keluarga mengajariku akan tidak adanya Tuhan di dunia. Keluargaku memang menganut Atheis. Keluargaku mengajarkanku untuk tidak bergumul dengan orang disana. Karena itulah, aku selalu saja menyindiri dari lingkungan, baik disekolah ataupun disekitar rumahku. Teman-temanku selalu menatapku ataupun menghinaku dengan sebutan 'aneh'. Karena itulah, aku tidak mempunyai teman.
Hingga suatu ketika, gempa bumi melanda daerah kediamanku. Keluargaku meninggalkanku sendiri, yang masih berusia 6 tahun ini. Aku berlari sambil menangis mencari kedua orang tuaku. Beberapa bagian tubuhku sudah lecet terkena hantaman renruntuhan bangunan rumah yang tumbang. Aku melihat sejumlah orang berlari kesana sini berusaha meminta pertolongan. Aku hanya dapat menangis, berharap orang tuaku datang menolong. Tanpa kusadari runtuhan rumah tetanggaku, mengenaiku. Sehingga aku pun ikut tertimbun. Aku berusaha menahan rasa sakit akibat terjepit batu besar, mencoba menyerukan kedua orang tuaku.
Aku masih mendengar bebrapa orang berteriak, berlari, menangis, dan meminta tolong. Tak ada satupun orang yang mau membantuku. Aku tidak dapat berbuat apapun, mengingat usiaku yang masih sangat kecil saat itu.
Sampai akhirnya, aku melihat sinar diantar renruntuhan ini yang amat terang, hingga menyilaukan mataku. Aku sedikit menyipit dan menghalangi sinar tersebut dengan tanganku. Aku melihat sesorang yang tubuhnya bersinar mengulurkan tangan kepadaku, sembari tersenyum. Aku sedikit takut kala itu. Namun, hati nuraniku berkata bahwa Dia adalah malaikat, yang berada di dongeng-dongeng, yang akan menolongku. Aku memberanikan diri untuk menyambut ularan tangan tersebut.
Nyaman. Tentram. Seketika hatiku tenang. Seolah-olah aku mendapatkan hidup baru. Hidup yang lebih damai.
Tak lama kemudian, sinar itu berganti dengan suara banyak orang yang menanyakan keadaanku. Aku hanya bisa memanggil 'Mama dan Papa'. Segerombolan orang itu berusaha mengeluarkanku dari situ. Sampai akhirnya, aku selamat dan keluar. Aku langsung digotong masuk kedalam ambulance yang telah disiapkan.
Mataku mencari-cari keberadaan seseorang yang mengulurkan tangan-Nya kepadaku. Aku menangkap seberkas cahaya terang tadi dari arah lagit, hingga menjadi lenyap. Aku tersenyum menyadarinya.
Lima Belas Tahun Kemudian.......
Setelah kejadian itu, aku diangkat oleh keluarga kaya yang menganut agama Kristen. Semenjak itu aku belajar mengenal Yesus, dan hidup dalam-Nya. Hingga suatu ketika, kekasihku yang notabene menganut agama yang sama dengaku, mengajakku untuk melakasanakan ibadah rutin setiap minggunya ke gereja. Aku melihat gereja ini begitu sederhana, tapi sangat menenangkan. Aku dapat merasakan Roh Kudus datang dan berada disini. Sama seperti setiap kali aku memasuki gereja manapun.
Tatapan mataku terantuk pada sebuah patung Tuhan Yesus, yang tergantung manis didinding.
"Kamu tau? Dia-lah yang menyelamatkanku, kala aku hampir saja mati saat gempa bumi" Ujarku kepada kekasihku yang berada disampingku.
Kekasihku tersenyum. Mengucap syukur, hingga sampai saat ini, aku masih dapat bertemu dengannya, merasakan hangat kasih Tuhan, merasakan kasih sayang kedua orang tua angkatku, dan merasakan kasih terhadapa sesama. Tidak ada yang lebih indah selain 'KASIH'.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar