ENAM
PULUH DETIK
Pagi hari yang cerah, sang mentari
menyinari bumi atau alam. Aku datang ke sekolah bersama temanku, Lia, sambil
bercanda.
Setelah sampai di sekolah, jam
menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel pun berbunyi bertanda pelajaran akan segera dimulai.
Aku masuk ke kelas bersama
teman-temanku yang lain kelas 9. Tak lama kemudian, masuklah Bu Butet ke kelas
kami.
Ega siketua kelas kami, menyiapkan
kelas dan memberi salam kepada Bu Butet.
“Selamat siang, bu” ucap kami membentuk
paduan suara.
“Selamat siang” jawab Bu Butet.
Tetapi, mata Bu Butet tiba-tiba
tertuju pada tas di samping Ega, milik Ali. Tetapi, orang nya tidak ada.
“Kemana Ali, Ega ?”.
“Saya tidak tahu, bu. Tadi pagi ada”
kata Ega kepada Bu Butet.
“Tidak biasanya Ali seperti ini. Ada
yang tahu kemana Ali ?” Bu Butet bertanya kepada teman-teman seisi kelas.
Kami hanya dapat menggeleng, menjawab
pertanyaan Bu Butet.
“Baiklah, kita mulai saja pelajaran
ini sambil menunggu Ali” jelas Bu Butet kepada kami.
Bu Butet memulai pelajaran. Pelajaran
telah dimulai, namun Ali tidak kunjung datang. Tidak seperti biasanya Ali
seperti ini. Ali tidak pernah mempunyai niat untuk membolos. Ali bahkan
tergolong anak yang cerdas dan patuh.
‘Kemana Ali
sebenarnya ?’ kataku dalam hati. Aku mulai khawatir. Aku
takut jika sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Perasaanku mengatakan bahwa
sesuatu telah terjadi pada Ali, menambah kekhawatiranku.
‘Sebaiknya,
aku mencarinya sewaktu istirahat nanti’ usulku dalam hati.
Bel pun berbunyi, tanda waktu untuk beristirahat
dari pelajaran yang melelahkan. Aku bergegas untuk mencari Ali.
“Ivaaann..” teriak seseorang dari
belakang, mengagetkanku. Aku sontak menoleh, mencari tahu siapa yang memanggil
namaku. Aku melihat seseorang melambaikan tangannya sambil tersenyum kepadaku. Kevin.
Aku tersenyum dan membalas lambaian
tangan Kevin. Kevin berlari menghampiriku.
“Kita cari Ali bersama-sama. Walau
bagaimana pun Ali tetap sahabat kita van” dalam hati aku membetulkan perkataan
ivan. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan ivan.
Kami mulai dengan menyusuri
lorong-lorong sekolah. Namun, tidak ada tanda-tanda keberadaan Ali.
Kami pun tidak menyerah. Kami meneruskan
pencarian kami ke perpustakaan, UKS, laboratorium IPA, hingga lab. komputer.
Tetapi, hasilnya tetap tidak ada.
“Aku tahu dimana Ali” kata Kevin
misterius. Kevin pun menyeretku ke sebuah pohon di belakang sekolah, tempat
biasanya aku-ivan-kevin berkumpul dan bercanda gurau.
Mataku mulai menjelajahi setiap inchi
daerah sekitar pohon ini. Kevin melakukan hal sama denganku.
Tiba-tiba, tatapan mataku terantuk
pada sebuah benda. Bukan, bukan sebuah benda. Namun, sebuah tangan manusia.
Aku memanggil Kevin dan mengajaknya
untuk mendekat. Jarak diantar kami dan tangan tersebut semakin sempit. Hingga,
tangan itu semakin jelas.
“Ya Tuhan, Ali… apa yang terjadi
padamu?” aku sontak kaget melihat pemilik tangan tersebut. Ternyata, Ali
terbaring di bawah pohon ini. Ivan mulai membangunkan Ali. Ali tidak kunjung
bangun.
Aku mulai khawatir akan keadaan Ali.
Wajahnya yang pucat dan tubuhnya yang begitu lemas membuat rasa khawatirku
semakin meningkat.
Aku mencoba mendengar suara detak
jantung Ali. Jantung Ali berdetak begitu lambat dan lemah. Seakan-akan
menunjukkan bahwa pemiliknya dalam keadaan darurat.
Tanpa berpikir panjang, aku dan Kevin
mencoba memanggil beberapa teman dan guruku. Guru-guruku menyuruh kami untuk
membawa Ali ke rumah sakit. Kami membawa Ali menggunakan mobil seorang guru
kami.
Sesampai di rumah sakit, Ali langsung
saja ditangani oleh beberapa suster dan seorang dokter di ruang UGD.
“Tenanglah, Ali pasti akan baik-baik
saja” kata seorang guru kami mencoba menenangkan aku dan Kevin. Aku dan Kevin
hanya dapat terdiam, sibuk dengan pemikiran kami masing-masing.
Kami menunggu cukup lama hingga, dokter
keluar dari ruangan tersebut. Kami pun berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
“Bagaimana keadaan teman saya, dok?”
tanyaku begitu cemas.
“Keadaan pasien tersebut.. koma dan..
kritis..” aku membekap mulutku, tidak percaya. Aku tidak menyangka, jika Ali
akan seperti ini.
“Pasien tersebut.. mengalami gagal
jantung. Dia sempat mendapat donor jantung, namun jantung tersebut kembali
tidak berfungsi.. kemungkinan dia hanya dapat bertahan selama dua hari
kedepan.. kalian sudah bisa menjenguknya. Saya permisi” dokter itu pergi
meninggalkan kami yang hanya terdiam mencerna kata-kata dokter tersebut dan
diikuti oleh suster-suster yang sedari tadi berdiri di belakang dokter
tersebut.
Aku dan Kevin menyeret langkah kami
masuk ke dalam ruangan itu. Tampak Ali yang sedang terbaring lemah dengan wajah
yang pucat. Kami menghampirinya.
Aku tidak sanggup untuk tidak
menangis. Air mataku telah tumpah menjadi aliran sungai kecil. Kevin masih saja
diam tidak bergeming, menatap nanar ke arah Ali.
“Gagal jantung… mengapa harus Ali
yang mengalaminya? Ciihh..” kata Kevin. Aku melihat sebutir air mata mulai
turun membanjiri pipi Kevin. Kami mulai menangis di hadapan Ali yang sedang
terbaring koma.
‘Ali..
cepatlah sadar..’ hatiku berkata sambil menangis.
***
Dua hari kemudian ..
“Hai bro. Aku dan Ivan datang. Cepat
sadar dong bro.. biar kita bisa ngumpul lagi.. aku kangen sama loe..” kata
Kevin lembut kepada Ali yang masih saja terbaring lemah.
“iya bro.. aku bawa buah kesukaan loe
nih..” aku memberi senyum pada Ali. Tetapi tidak ada balasan.
“Cepatlah sadar kawan..” kataku
lirih.
***
Aku merasakan ada sesuatu yang
bergerak mengenai kepalaku. Aku pun membetulkan posisiku, dari yang tidur
sambil menutup kepala ku di atas tangan yang terbuka, ke posisi duduk.
Aku sontak kaget melihat apa yang
baru saja terjadi. Ali baru saja menggerakkan tangannya. Aku langsung saja
membangunkan Kevin.
“Ivaannn… Kevinn..” panggil Ali
begitu lirih. Aku dan Kevin menghampiri Ali. Wajah Ali masih saja pucat. Untuk
berbicara saja Ali harus mengeluarkan sebagian dari tenaganya.
“Kami disini Ali.. bicaralah” kataku
lembut.
“Maa.. maafff.. aakk.. aakuu..
tiiddaakk bbiissa mmeenjaadii teemaan yyangg baiikk..” kata Ali dengan begitu
perlahan. Nafasnya juga masih tersengal-sengal.
“Aakkuu.. aakuu raasaa akuu
tiiddaakkk akkaaan laaammaa laagii.. seelaaamatt tiinnggaaall tteeemaann..”
bunyi mesin pedeteksi jantung yang terdengar panjang. Menandakan sang empunya
telah pergi untuk selama-lamanya.
Aku dan Kevin terdiam, hingga dokter
datang dan memberitahu kami bahwa Ali telah tiada.
Ali yang ceria dan periang kini telah
dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tidak aka nada lagi yang jail kepada kami, dan
tidak akan ada lagi cengiran lebar tanpa dosa itu.
Semua hilang seperti air mata yang
mulai meluncur di pipiku. Enam puluh detik disisa hidup Ali, Ali tetap
mengingat kami sebagai sahabatnya. Begitulah Ali.
Ali.. mungkin kamu tidak berada di
sampi kami, namun aku tahu bahwa kamu selalu ada di hati kami. Terimakasih Ali,
atas persahabatan yang begitu indah..
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar