DIBALIK SOSOK SEORANG ALI
Pagi hari
yang cerah, sang mentari menyinari bumi atau alam. Aku datang ke sekolah
bersama temanku, Lia, sambil bercanda. Setelah sampai di sekolah, jam
menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel pun berbunyi bertanda pelajaran akan segera
dimulai.
Aku
masuk ke kelas bersama teman-temanku yang lain kelas IX. Tak lama kemudian,
masuklah Bu Butet ke kelas kami. Ega, ketua kelas kami, menyiapkan kelas dan
memberi salam kepada Bu Butet “Selamat siang, bu” ucap kami serempak. “Selamat
siang, anak-anak” balas Bu Butet.
Tetapi,
mata Bu Butet tiba-tiba tertuju pada tas di samping Ega, milik Ali. Tetapi,
orang nya tidak ada. “Kemana Ali, Ega ?”. “Saya tidak tahu, bu. Tadi pagi ada”
kata Ega kepada Bu Butet. Bu Butet hanya mengangguk dan memulai pelajaran.
Beberapa
saat kemudian, datanglah Ali dengan santainya. Baju yang tidak rapi —tidak dimasukkan
dan kusut—, rambut yang panjang dan berantakan membuat kesan berandalan. Bu Butet
yang sadar akan kehadiran Ali, kemudian menghampirinya “Darimana saja kamu, Ali
?”. Ali mengacuhkan pertanyaan Bu Butet, dan berjalan menuju bangkunya, di
samping Ega. Bu Butet hanya dapat menghela nafas melihat tingkah laku anak
muridnya yang satu ini.
Ali
memang kerap kali seperti itu. Semua guru hanya dapat menghela nafas pasrah.
Bahkan, Ali kerap kali membolos ketika pelajaran sedang berlangsung. Ali juga
kerap kali tidak mengerjakan tugas dan melawan guru. Bahkan, beberapa guru
mengacuhkan keberadaan Ali karena sudah lelah untuk menegur Ali.
Akhirnya,
Bu Butet melanjutkan pelajaran karena sempat tertunda oleh kehadiran Ali.
Sesekali
kulirik Ali. Lagi-lagi, dia hanya tertidur. Hampir —bahkan semua— pelajaran yang
Ali ikuti, dia hanya tertidur dan tak menghiraukan guru yang sedang
menjelaskan.
Aku
sangat mengenalnya. Sejak kecil, aku telah bersamanya. Menjalani ikatan
persahabatan yang begitu lama. Ali begitu periang dan ramah. Banyak orang yang
menyukainya. Bahkan, Ali tergolong orang yang cerdas. Tapi semua itu dulu,
ketika kejadian 3 tahun silam belum terjadi. Kejadian yang membuatnya menjadi
sosok yang dingin dan tak mempercayai orang lain. Kejadian yang tak diinginkan
oleh siapa pun. Kejadian yang hanya mimpi buruk bagi setiap orang. Kejadian yang
dapat menyayat hati. Namun, kejadian itu terjadi pada Ali dan membuatnya begitu
terpuruk…
“Davin…”
aku tersentak ketika Bu Butet memanggil namaku. “Ii..iiyaa.. bu” aku gelagapan
menjawabnya. “Mengapa kamu melamun, Davin ?” aku tersadar. Ternyata sedari tadi
aku hanya melamun dan tidak mendengarkan penjelasan Bu Butet. Aku memandang
teman-teman di kelas ku, termasuk Ali yang ternyata telah bangun dari mimpi
indahnya. Semua memandang ku dengan tatapan meminta penjelasan. “Tidak, bu” aku
hanya nyengir tidak jelas. “Yah sudah. Jangan melamun lagi. Baiklah, kita
lanjutkan pelajarannya kembali” kata Bu Butet sembari melanjutkan pelajaran.
***
Bel
berbunyi, tanda jam pelajaran telah usai. Segerombolan siswa mulai berhamburan
meninggalkan sekolah. Ada beberapa siswa yang tetap tinggal di sekolah untuk
mengerjakan tugas ataupun mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
Berbeda
dengan aku, Ali, dan Lia. Kami tetap tinggal di sekolah, hanya sekedar untuk
berbincang-bincang satu sama lain. Inilah kebiasaan kami —aku, Lia dan Ali— sejak
menginjak bangku SD, tepatnya sekitar 4 tahun silam ketika kami duduk di bangku
kelas 5 SD.
Mereka
sedang berada di sebuah taman sekolah. Inilah tempat biasa mereka kunjungi
ketika ingin berbincang satu sama lain. Dan inilah mereka, duduk melingkar
—diposisi kiri ada Ali, ditengah ada Lia dan selanjutnya aku— di bawah sebuah
pohon yang sejuk dan rindang.
“Ali..”
panggilku kepada Ali. Ali hanya menoleh dan menatapku. “Kau.. darimana saja
tadi, sewaktu pelajaran Bu Butet ?” kataku hati-hati. Berusaha untuk tidak
menyinggung hatinya. Ali hanya menghela nafas berat. “Seperti biasa..” Ali
menggantungkan kalimatnya dan menghela nafas panjang. “Aku merindukannya
lagi..” kali ini tatapan Ali kosong. Terpancar kesedihan dan keterpurukan yang
begitu dalam di matanya.
Kebiasaan
Ali jika tidak ingin belajar adalah ke tempat ini. Ke tempat yang sedang kami
duduki saat ini. Hanya untuk melepas rindunya.
Aku
mengerti apa yang sedang Ali rasakan. Telah berkali-kali Ali seperti ini. Kami
—aku dan Lia— hanya dapat terdiam mendengarnya.
“Mengapa
kamu tidak mengunjunginya saja ? dia pasti merindukanmu juga” kini, Lia pun
angkat bicara. Sebenarnya, aku dan Lia tak tega jika melihat kondisi Ali
sekarang. Ali yang periang pergi begitu saja dan tidak tahu kapan akan kembali
lagi.
“Tidak,
aku takut jika dia marah. Semua ini salah aku..” suara Ali kini terdengar
bergetar. Apakah dia menangis ? batinku.
“Ali..
sampai kapan kamu akan seperti ini. Menyalahkan dirimu sendiri. Dan terperuk
begini. Semua ini bukan kesalahan kamu, Ali” terang Lia kepada Ali. Lia tidak
ingin melihat sahabatnya ini semakin terpuruk.
“Kalian
tidak merasakan apa yang aku rasakan sekarang..” Ali berkata dengan suara yang
begitu kecil.
“Maafkan
kami jika kami membuatmu teringat kembali akan kejadian itu. Kami akan selalu
ada untuk kamu” kataku disusul dengan anggukan kepala dari Lia. Ali hanya
membalas dengan tersenyum kecut.
“Baiklah,
lebih baik kita pulang. Hari sudah semakin gelap” ajakku kepada kedua sahabatku
ini. “Ayoo..” jawab mereka serempak.
***
Seperti
biasa, setiap berangkat sekolah, aku selalu bersama teman-temanku. Ali tidak
ikut serta karena arah jalur rumah mereka yang berlawanan dengan arah jalur
rumah ku.
Sesampai
di sekolah, jam di pergelangan tanganku telah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ku
letakkan tasku diatas meja. Kulirik bangku Ali berada. Tasnya belum bertengger
di bangkunya menandakan bahwa siempunya —Ali— belum berada disekolah. Mungkin belum datang, batinku.
Jam
di pergelangan tanganku sekarang telah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel akan
segera dibunyikan. Namun, Ali tak kunjung datang hingga kami memulai pelajaran.
Kemana Ali sebenarnya ? tanyaku
penasaran dalam hati.
***
Sudah
dua minggu Ali tidak masuk sekolah dan tanpa kabar. Pihak sekolah sudah melayangkan
surat peringatan kepada Ali. Namun, hasilnya nihil. Ali tak kunjung masuk
sekolah.
Aku
dan Lia, hanya dapat menggelengkan kepala ketika teman-teman mulai menanyakan
keberadaan Ali. Ali memang kerap kali membolos. Namun, Ali tak pernah membolos hingga
selama ini.
“Davin..
kemana sebenarnya Ali ? apakah dia baik-baik saja ? apa sebaiknya kita
mengunjungi rumah nya saja ?” Tanya Lia yang tampak begitu khawatir. Aku tidak
tahu harus berbuat apa. Baru kali ini Ali seperti ini.
“Aku
tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas dia pasti baik-baik saja.
Begini saja, kita coba saja menghubungi telepon rumahnya, jika tidak ada yang
menjawab baru kita mengunjungi rumah nya. Bagaimana?” Lia tampak sedikit lega
ketika aku menyarankan seperti itu. “Baiklah, kita hubungi saja dulu” katanya
lalu tersenyum.
Aku
pun mencoba menghubungi telepon rumah nya melalui telepon genggamku. Nada
panggilan masuk terdengar. Namun, tak ada satu pun orang yang mengangkat. Aku
coba hingga beberapa kali. Hasilnya tetap sama. Tidak diangkat.
“kita
ke rumah nya saja” kataku ke Lia yang sedari tadi menunggu penjelasan dariku.
“Baiklah” jawab Lia sambil tersenyum.
***
Bel
berbunyi bertanda pelajaran telah selesai. Aku dan Lia langsung bersiap-siap
untuk pergi mengunjungi rumah Ali. Inilah pertama kalinya semenjak kejadian
itu, aku dan Lia ke rumah Ali. Semenjak kejadian itu terjadi, Ali menjadi
sangat tertutup kepada siapa pun.
Kami
memilih untuk memakai kendaraan pribadi milikku, sepeda motor. Butuh waktu
sekitar 30 menit untuk sampai di rumah Ali. Rumah Ali dan sekolah memang
terbilang cukup jauh.
Inilah
rumah Ali. Rumah yang begitu besar, gelap dan sepi. Berbeda dengan terakhir
kali nya kami —aku dan Lia— mengunjungi rumah ini. Dulu, rumah ini begitu asri
dan nyaman. Pekarangan rumah yang selalu ditanami berbagai jenis tumbuhan, kini
berubah menjadi pekarang yang tandus dan tak terawat.
Semua
karena kejadian itu. Semua orang menyalahkan Ali. Bahkan, keluarga dan sanak
saudara Ali pun tak ada yang memperdulikannya lagi. Kamilah yang selalu ada
untuknya. Kami, terlebih aku, tak ingin membuatnya seakan tak ada orang yang
memperhatikannya. Kehidupan Ali sangat terpuruk.
Aku
dan Lia mulai memasuki rumah Ali. Kami melewati pekarangan yang tak terawat dan
gersang di rumah Ali. Sesampainya kami di depan pintu rumah Ali, kami langsung
mengetuk pintu itu.
Ttok..
took.. ttoookk… ttoookk.. tokkk..
Tak
ada jawaban. Lia mencoba sekali lagi. Nihil. Tak ada jawaban juga. Lia menatap
ku seakan meminta saran. Aku hanya menggeleng.
“Sepertinya
tak ada orang” kata Lia sembari menatap sekeliling rumah Ali. “Rumahnya seakan
tak terawat. Apakah tak ada satu orang pun yang memperhatikannya ?” sambung
Lia. Lia betul, rumah ini tidak dapat disebut sebagai rumah. Rumah ini begitu
berantakan. Seperti rumah kosong.
“Jika
seperti ini terus, hidupnya akan berantakan..” kataku prihatin.
“Kita
tunggu saja sampai Ali pulang” pinta ku yang hanya dijawab dengan anggukan oleh
Lia. Kami memutuskan untuk menunggu di kursi taman yang ada di pekarangan rumah
Ali.
Tiga
jam kemudian, jam menunjukkan pukul 18.45 WIB ..
“Lia..
Davin..” aku tersentak dan menoleh mendengar sesorang memanggil namaku. “Apa
yang kalian lakukan disini?” Tanya orang itu kepada kami. Yang ternyata adalah
Ali. “Alii...” panggilku kepada nya. Aku iba melihatnya. Aku menatap wajah nya
yang terlihat kelelahan. “Kalian masuk saja dulu, ayoo” ajak Ali kepada kami.
Sreeekkkkk…
Setelah
pintu terbuka, terlihatlah isi dalam rumah Ali. Rumah ini kosong. Hanya ada
sofa tamu yang sudah sobek dan tak layak pakai, tergeletak di sudut ruang tamu
rumah Ali. Hanya itu. Tak ada televise dan perabotan yang lain. Rumah ini
sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.
Ali
mempersilahkan kami duduk di sofa itu. Lia menatapku seakan tak percaya akan
semua ini, dan aku hanya dapat balik menatapnya.
Ali
keluar dari kamarnya. Kamar yang sedari dulu dia tempati. “Aku merindukan
kalian..” kata Ali lembut sembari duduk disofa yang sama dengan kami. “Aku kira
kalian tidak akan memperdulikanku, ternyata aku salah…” Ali menatap datar
langit-langit rumah yang catnya sudah banyak terkelupas.
“Kamu
kenapa tidak sekolah? Dan kamu darimana?” tanya Lia penasaran. Inilah
pertanyaan-pertanyaan yang selalu melayang-layang di pikiranku. Pertanyaan yang
menimbulkan tanda tanya besar. Ali menghela nafas, “Aku.. dari panti asuhan”
jawab Ali singkat.
Itulah
Ali. Dia selalu mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingannya
sendiri. Ali memang suka membantu sebuah panti asuhan. Bahkan, dia selalu
bekerja keras untuk membiayai panti asuhan dan hidupnya sendiri.
“Rumah
ini.. begitu suram ya.. tak seperti dulu lagi. Aku menjual perabotan rumah
ini.. hanya untuk kebutuhan hidupku dan panti asuhan. Aku harus bekerja di
empat tempat berbeda, itulah mengapa aku tak sekolah beberapa hari ini..” Ali
mengambil nafas.
“Pagi
hari, aku menjual Koran. Siang hari, aku bekerja di sebuah restoran sebagai
seorang pelayan. Sore hari, aku bekerja sebagai pengantar pos. Dan malam hari,
aku bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah warung kecil..” tambah Ali.
Aku
takjub akan perbuatan Ali. Kami tak menyangka hidupnya akan sesengsara ini. Aku
menatap nanar Ali. Tampak diraut wajahnya begitu banyak penderitaan. Apa salahnya sehingga dunia begitu kejam
kepadanya? Batinku menangis.
“Tak
ada seorang pun yang peduli kepada aku dan ibuku. Aku bekerja juga untuk
pengobatan ibuku. Tanteku terus memaksaku untuk mengambil ibuku dan merawat
ibuku sendiri..” kata nya terputus. Ali menangis. Ali menghapus air matanya
yang terjatuh. Untuk pertama kalinya aku dan Lia melihat seorang Ali menangis.
“Gumpalan darah di kepala ibuku.. tumbuh lagi.. dan kondisi ibu semakin parah..
seandainya kejadian itu tak terjadi.. ayah pasti masih hidup dan ibu tak akan
seperti ini. Ini semua salahku..” tangis Ali pecah. Ali sedikit terisak. Aku
dan lia memeluk Ali. Pelukan hangat seorang sahabat.
Kejadian
itu. Dimana membuat hidup Ali berubah 180 derajat dari sebelumnya. Musibah yang
membuat sayatan yang begitu dalam dan menyakitkan di hati Ali dan ibunya.
Kecelakaan
3 tahun silam..
Kecelakaan
yang merenggut nyawa ayah Ali dan membuat kondisi ibu Ali menjadi cacat…
***
“Ayah,
ayah, ayah, ayah.. lihat ini..” kata seorang anak laki-laki kepada ayahnya yang
sedang sibuk menyetir. “Ali, tenanglah sedikit. Ayah sedang menyetir” kata sang
ayah dengan lembut memperingatkan anaknya. “Tidak mau! Ayah harus lihat ini. Nilai
ulangan ku sangat baguskan ayah? Ayah coba lihat sebentar. Nilaiku sempurna,
ayah” rengek anak laki-laki itu kepada ayahnya, Ali. “Ali, tenanglah sayang.
Ayah sedang menyetir. Nanti saja ya” kata seorang wanita yang notabene adalah
ibu Ali.
“Tidak
mau! Ali maunya ayah melihatnya sekarang” pinta Ali.
“Baiklah,
ayah akan melihatnya. Coba sini ayah lihat” ayah Ali pun mengulurkan tangan dan
menoleh ke belakang, tempat anak nya itu duduk. Ali pun memberikan kertas
ulangannya dengan senyum merekah di wajah nya. Ayah Ali masih sibuk melihat ke
belakang sambil menyetir, hingga tak sadar ada sebuah truk besar dari arah
berlawanan.
“Ayaaaahhhh…
awaaaasssss!!!!!” teriak ibu Ali menyadarkan suaminya. Ayah Ali menoleh ke
depan dan berusaha mengendalikan kemudi setir mobil. Namun, kecelakaan tak
dapat dihindarkan. Mobil Ali tak dapat menghindari truk dan terlempar ke
jurang.
Mobil
Ali hancur tak berbentuk lagi. Kondisi ayah dan ibu Ali begitu mengenaskan.
Mobil Ali terbalik dan menyebabkan Ali terlempar keluar dari mobil. Kondisi Ali
baik-baik saja. Bahkan, setelah mobilnya terlempar ke jurang, Ali sempat
tersadar dan mencoba untuk meminta bantuan. Sampai akhirnya, polisi dan
ambulance datang untuk menolong.
Ali
hanya mendapat luka di bagian kepala, kaki dan tangan. Ibu Ali mengalami cedera
dan patah tulang di beberapa bagian. Sedangkan ayah Ali sudah tidak bisa
diselamatkan lagi.
Setelah
sampai di rumah sakit, Ali dan ibunya langsung mendapat pertolongan medis.
Dokter mengatakan bahwa, ibu Ali mengalami kelumpuhan dan terdapat gumpalan
darah di kepalanya. Dan akhirnya, ibu Ali dioperasi dan menjalani masa
pemulihan. Ali hanya luka ringan yang dapat disembuhkan. Dan betapa terkejutnya
Ali ketika mengetahui ayahnya telah tiada. Ibu Ali hanya dapat terbaring lemah
melihat jasad suaminya. Ali menjerit dan menangis sekuat-kuatnya.
Saudara
dan keluarga Ali yang datang, malah menyalahkan Ali atas kematian ayahnya. Ali
merasa terpojok dan terpuruk. Hingga, setelah pemakaman ayahnya, Ali memutuskan
untuk menitipkan ibunya kepada tantenya, di Bandung.
“Tante,
jaga ibu baik-baik. Aku akan mengirim uang untuk pengobatan ibu setiap
bulannya. Terimakasih tante” tante Ali hanya diam dan menunjukkan muka tidak
senangnya.
“Ibu,
Ali pergi dulu ya.. Ali akan cepat kembali. Ali menyayangi ibu..” ucap Ali
untuk yang terakhir kalinya dan mencium kening ibu lembut. Ali lalu pergi dan
meninggalkan ibu. Jika tidak menitipkan ibunya, Ali takut ibunya juga akan
menyalahkannya atas kematian ayahnya. Ali akan mencoba memulai hidup mandiri
dan bekerja keras…
***
Aku
dan Lia, masih memeluk Ali yang sedang menangis. Lia sudah ikut menangis sedari
tadi. Aku hanya dapat terdiam dan merasa kasihan pada sahabat ku ini. Dibalik
sosok Ali yang dingin dan cuek, terselip luka yang digoreskan amat mendalam.
“Aku..
akan menjual rumah ini dan memebawa ibuku ke panti asuhan itu. Da, kami akan
tinggal disana. Aku tak tahu… harus melanjutkan sekolahku atau tidak..” Ali
terisak sambil terus menangis. “Aku tidak mempunyai biaya. Mungkin hasil
penjualan rumah ini akan aku pergunakan untuk pengobatan ibu saja..” kata Ali
sambil terus terisak.
“Tidak
Ali. Kamu tidak boleh putus sekolah. Kami akan membantumu. Tenanglah, Ali.
Sekarang, aku minta kamu pikirkan saja pengobatan ibumu. Dan.. aku minta.. kamu
harus berubah. Aku ingin kamu seperti Ali yang dulu. Ali yang ceria, Ali yang
cerdas dan Ali yang selalu kami banggakan” kataku menghibur sembari tersenyum
kepada Ali.
Lia
juga ikut tersenyum. Aku dan Lia bertatapan lalu mengangguk. Inilah gunanya
sahabat. Selalu ada kapan pun kita butuhkan. Dan yang akan memikul beban
bersama. Ali, kamu tidak akan sendirian..
batinku tersenyum.
“Kalian..
begitu baik padaku. Terimakasih.. terimakasih sahabatku..” kata Ali sembari
mengusap air matanya dan tersenyum. Senyuman itu kembali lagi. Senyuman yang
telah lama hilang dari wajah seorang Ali. Senyuman kebahagian yang
menghangatkan hati kami, sahabatnya. Aku pun membalas senyumannya.
***
Satu
tahun kemudian…
“Ayah..
Ali datang..” kata Ali sambil tersenyum. “Ayah, apa kabar? Ali datang bersama
ibu. Kami sangat merindukan ayah. Kami disini baik-baik saja, yah..” Ali
menghela nafas. “ Dulu.. ayah ingin Ali masuk sekolah favorite kan, yah?
Sekarang Ali bersekolah disana, yah. Sekolah impian kita” Ali tersenyum
disambut senyuman hangat dari sang ibu. “Maafin Ali, yah.. selama ini Ali tidak
bisa menjaga ibu dengan baik. Tapi Ali janji, akan membuat ibu selalu
tersenyum…” ibu Ali yang sedang duduk di kursi roda, mengelus kepala Ali dengan
lembut.
“Aliiiii….”
Panggilku dan Lia yang disambut lambaian tangan Ali dan senyuman kas Ali dan
ibunya. “Apakah sudah siap? Hari sudah semakin gelap” kata Lia kepada Ali dan
ibunya.
“Baiklah..”
jawab Ali. “Ayah.. Ali dan ibu pulang dulu ya.. Ali janji akan selalu
mengunjungi ayah.. sampai jumpa, ayah..” kata Ali kepada sebuah batu nisan.
Nisan ayahnya. Kami pun beranjak pulang dari pemakaman.
Semenjak
kejadian malam itu, Ali berubah kembali menjadi Ali yang dulu. Sekarang, Ali
dapat melupakan keterpurukannya. Dan, Ali pun menepati janjinya.
Kami
akan selalu bersama.. di sisi Ali. Dan dibalik sosoknya selama ini.. dia tetap
seorang Ali..
~SELESAI~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar