Jumat, 10 Mei 2013

Dibalik Sosok Seorang Ali



DIBALIK SOSOK SEORANG ALI

Pagi hari yang cerah, sang mentari menyinari bumi atau alam. Aku datang ke sekolah bersama temanku, Lia, sambil bercanda. Setelah sampai di sekolah, jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel pun berbunyi bertanda pelajaran akan segera dimulai.
          Aku masuk ke kelas bersama teman-temanku yang lain kelas IX. Tak lama kemudian, masuklah Bu Butet ke kelas kami. Ega, ketua kelas kami, menyiapkan kelas dan memberi salam kepada Bu Butet “Selamat siang, bu” ucap kami serempak. “Selamat siang, anak-anak” balas Bu Butet.
          Tetapi, mata Bu Butet tiba-tiba tertuju pada tas di samping Ega, milik Ali. Tetapi, orang nya tidak ada. “Kemana Ali, Ega ?”. “Saya tidak tahu, bu. Tadi pagi ada” kata Ega kepada Bu Butet. Bu Butet hanya mengangguk dan memulai pelajaran.
          Beberapa saat kemudian, datanglah Ali dengan santainya. Baju yang tidak rapi —tidak dimasukkan dan kusut—, rambut yang panjang dan berantakan membuat kesan berandalan. Bu Butet yang sadar akan kehadiran Ali, kemudian menghampirinya “Darimana saja kamu, Ali ?”. Ali mengacuhkan pertanyaan Bu Butet, dan berjalan menuju bangkunya, di samping Ega. Bu Butet hanya dapat menghela nafas melihat tingkah laku anak muridnya yang satu ini.
          Ali memang kerap kali seperti itu. Semua guru hanya dapat menghela nafas pasrah. Bahkan, Ali kerap kali membolos ketika pelajaran sedang berlangsung. Ali juga kerap kali tidak mengerjakan tugas dan melawan guru. Bahkan, beberapa guru mengacuhkan keberadaan Ali karena sudah lelah untuk menegur Ali.
          Akhirnya, Bu Butet melanjutkan pelajaran karena sempat tertunda oleh kehadiran Ali.
Sesekali kulirik Ali. Lagi-lagi, dia hanya tertidur. Hampir —bahkan semua— pelajaran yang Ali ikuti, dia hanya tertidur dan tak menghiraukan guru yang sedang menjelaskan.
          Aku sangat mengenalnya. Sejak kecil, aku telah bersamanya. Menjalani ikatan persahabatan yang begitu lama. Ali begitu periang dan ramah. Banyak orang yang menyukainya. Bahkan, Ali tergolong orang yang cerdas. Tapi semua itu dulu, ketika kejadian 3 tahun silam belum terjadi. Kejadian yang membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tak mempercayai orang lain. Kejadian yang tak diinginkan oleh siapa pun. Kejadian yang hanya mimpi buruk bagi setiap orang. Kejadian yang dapat menyayat hati. Namun, kejadian itu terjadi pada Ali dan membuatnya begitu terpuruk…
          “Davin…” aku tersentak ketika Bu Butet memanggil namaku. “Ii..iiyaa.. bu” aku gelagapan menjawabnya. “Mengapa kamu melamun, Davin ?” aku tersadar. Ternyata sedari tadi aku hanya melamun dan tidak mendengarkan penjelasan Bu Butet. Aku memandang teman-teman di kelas ku, termasuk Ali yang ternyata telah bangun dari mimpi indahnya. Semua memandang ku dengan tatapan meminta penjelasan. “Tidak, bu” aku hanya nyengir tidak jelas. “Yah sudah. Jangan melamun lagi. Baiklah, kita lanjutkan pelajarannya kembali” kata Bu Butet sembari melanjutkan pelajaran.
***
          Bel berbunyi, tanda jam pelajaran telah usai. Segerombolan siswa mulai berhamburan meninggalkan sekolah. Ada beberapa siswa yang tetap tinggal di sekolah untuk mengerjakan tugas ataupun mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.
          Berbeda dengan aku, Ali, dan Lia. Kami tetap tinggal di sekolah, hanya sekedar untuk berbincang-bincang satu sama lain. Inilah kebiasaan kami —aku, Lia dan Ali— sejak menginjak bangku SD, tepatnya sekitar 4 tahun silam ketika kami duduk di bangku kelas 5 SD.
Mereka sedang berada di sebuah taman sekolah. Inilah tempat biasa mereka kunjungi ketika ingin berbincang satu sama lain. Dan inilah mereka, duduk melingkar —diposisi kiri ada Ali, ditengah ada Lia dan selanjutnya aku— di bawah sebuah pohon yang sejuk dan rindang.
          “Ali..” panggilku kepada Ali. Ali hanya menoleh dan menatapku. “Kau.. darimana saja tadi, sewaktu pelajaran Bu Butet ?” kataku hati-hati. Berusaha untuk tidak menyinggung hatinya. Ali hanya menghela nafas berat. “Seperti biasa..” Ali menggantungkan kalimatnya dan menghela nafas panjang. “Aku merindukannya lagi..” kali ini tatapan Ali kosong. Terpancar kesedihan dan keterpurukan yang begitu dalam di matanya.
          Kebiasaan Ali jika tidak ingin belajar adalah ke tempat ini. Ke tempat yang sedang kami duduki saat ini. Hanya untuk melepas rindunya.
          Aku mengerti apa yang sedang Ali rasakan. Telah berkali-kali Ali seperti ini. Kami —aku dan Lia— hanya dapat terdiam mendengarnya.
          “Mengapa kamu tidak mengunjunginya saja ? dia pasti merindukanmu juga” kini, Lia pun angkat bicara. Sebenarnya, aku dan Lia tak tega jika melihat kondisi Ali sekarang. Ali yang periang pergi begitu saja dan tidak tahu kapan akan kembali lagi.
          “Tidak, aku takut jika dia marah. Semua ini salah aku..” suara Ali kini terdengar bergetar. Apakah dia menangis ? batinku.
          “Ali.. sampai kapan kamu akan seperti ini. Menyalahkan dirimu sendiri. Dan terperuk begini. Semua ini bukan kesalahan kamu, Ali” terang Lia kepada Ali. Lia tidak ingin melihat sahabatnya ini semakin terpuruk.
          “Kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan sekarang..” Ali berkata dengan suara yang begitu kecil.
“Maafkan kami jika kami membuatmu teringat kembali akan kejadian itu. Kami akan selalu ada untuk kamu” kataku disusul dengan anggukan kepala dari Lia. Ali hanya membalas dengan tersenyum kecut.
          “Baiklah, lebih baik kita pulang. Hari sudah semakin gelap” ajakku kepada kedua sahabatku ini. “Ayoo..” jawab mereka serempak.
***

          Seperti biasa, setiap berangkat sekolah, aku selalu bersama teman-temanku. Ali tidak ikut serta karena arah jalur rumah mereka yang berlawanan dengan arah jalur rumah ku.
          Sesampai di sekolah, jam di pergelangan tanganku telah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ku letakkan tasku diatas meja. Kulirik bangku Ali berada. Tasnya belum bertengger di bangkunya menandakan bahwa siempunya —Ali— belum berada disekolah. Mungkin belum datang, batinku.
          Jam di pergelangan tanganku sekarang telah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Bel akan segera dibunyikan. Namun, Ali tak kunjung datang hingga kami memulai pelajaran. Kemana Ali sebenarnya ? tanyaku penasaran dalam hati.
***

          Sudah dua minggu Ali tidak masuk sekolah dan tanpa kabar. Pihak sekolah sudah melayangkan surat peringatan kepada Ali. Namun, hasilnya nihil. Ali tak kunjung masuk sekolah.
          Aku dan Lia, hanya dapat menggelengkan kepala ketika teman-teman mulai menanyakan keberadaan Ali. Ali memang kerap kali membolos. Namun, Ali tak pernah membolos hingga selama ini.
          “Davin.. kemana sebenarnya Ali ? apakah dia baik-baik saja ? apa sebaiknya kita mengunjungi rumah nya saja ?” Tanya Lia yang tampak begitu khawatir. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Baru kali ini Ali seperti ini.
          “Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas dia pasti baik-baik saja. Begini saja, kita coba saja menghubungi telepon rumahnya, jika tidak ada yang menjawab baru kita mengunjungi rumah nya. Bagaimana?” Lia tampak sedikit lega ketika aku menyarankan seperti itu. “Baiklah, kita hubungi saja dulu” katanya lalu tersenyum.
          Aku pun mencoba menghubungi telepon rumah nya melalui telepon genggamku. Nada panggilan masuk terdengar. Namun, tak ada satu pun orang yang mengangkat. Aku coba hingga beberapa kali. Hasilnya tetap sama. Tidak diangkat.
          “kita ke rumah nya saja” kataku ke Lia yang sedari tadi menunggu penjelasan dariku. “Baiklah” jawab Lia sambil tersenyum.
***

          Bel berbunyi bertanda pelajaran telah selesai. Aku dan Lia langsung bersiap-siap untuk pergi mengunjungi rumah Ali. Inilah pertama kalinya semenjak kejadian itu, aku dan Lia ke rumah Ali. Semenjak kejadian itu terjadi, Ali menjadi sangat tertutup kepada siapa pun.
          Kami memilih untuk memakai kendaraan pribadi milikku, sepeda motor. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah Ali. Rumah Ali dan sekolah memang terbilang cukup jauh.
          Inilah rumah Ali. Rumah yang begitu besar, gelap dan sepi. Berbeda dengan terakhir kali nya kami —aku dan Lia— mengunjungi rumah ini. Dulu, rumah ini begitu asri dan nyaman. Pekarangan rumah yang selalu ditanami berbagai jenis tumbuhan, kini berubah menjadi pekarang yang tandus dan tak terawat.
          Semua karena kejadian itu. Semua orang menyalahkan Ali. Bahkan, keluarga dan sanak saudara Ali pun tak ada yang memperdulikannya lagi. Kamilah yang selalu ada untuknya. Kami, terlebih aku, tak ingin membuatnya seakan tak ada orang yang memperhatikannya. Kehidupan Ali sangat terpuruk.
          Aku dan Lia mulai memasuki rumah Ali. Kami melewati pekarangan yang tak terawat dan gersang di rumah Ali. Sesampainya kami di depan pintu rumah Ali, kami langsung mengetuk pintu itu.
          Ttok.. took.. ttoookk… ttoookk.. tokkk..
          Tak ada jawaban. Lia mencoba sekali lagi. Nihil. Tak ada jawaban juga. Lia menatap ku seakan meminta saran. Aku hanya menggeleng.
          “Sepertinya tak ada orang” kata Lia sembari menatap sekeliling rumah Ali. “Rumahnya seakan tak terawat. Apakah tak ada satu orang pun yang memperhatikannya ?” sambung Lia. Lia betul, rumah ini tidak dapat disebut sebagai rumah. Rumah ini begitu berantakan. Seperti rumah kosong.
          “Jika seperti ini terus, hidupnya akan berantakan..” kataku prihatin.
“Kita tunggu saja sampai Ali pulang” pinta ku yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Lia. Kami memutuskan untuk menunggu di kursi taman yang ada di pekarangan rumah Ali.
          Tiga jam kemudian, jam menunjukkan pukul 18.45 WIB ..
          “Lia.. Davin..” aku tersentak dan menoleh mendengar sesorang memanggil namaku. “Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya orang itu kepada kami. Yang ternyata adalah Ali. “Alii...” panggilku kepada nya. Aku iba melihatnya. Aku menatap wajah nya yang terlihat kelelahan. “Kalian masuk saja dulu, ayoo” ajak Ali kepada kami.
          Sreeekkkkk…
          Setelah pintu terbuka, terlihatlah isi dalam rumah Ali. Rumah ini kosong. Hanya ada sofa tamu yang sudah sobek dan tak layak pakai, tergeletak di sudut ruang tamu rumah Ali. Hanya itu. Tak ada televise dan perabotan yang lain. Rumah ini sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.
          Ali mempersilahkan kami duduk di sofa itu. Lia menatapku seakan tak percaya akan semua ini, dan aku hanya dapat balik menatapnya.
          Ali keluar dari kamarnya. Kamar yang sedari dulu dia tempati. “Aku merindukan kalian..” kata Ali lembut sembari duduk disofa yang sama dengan kami. “Aku kira kalian tidak akan memperdulikanku, ternyata aku salah…” Ali menatap datar langit-langit rumah yang catnya sudah banyak terkelupas.
          “Kamu kenapa tidak sekolah? Dan kamu darimana?” tanya Lia penasaran. Inilah pertanyaan-pertanyaan yang selalu melayang-layang di pikiranku. Pertanyaan yang menimbulkan tanda tanya besar. Ali menghela nafas, “Aku.. dari panti asuhan” jawab Ali singkat.
          Itulah Ali. Dia selalu mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingannya sendiri. Ali memang suka membantu sebuah panti asuhan. Bahkan, dia selalu bekerja keras untuk membiayai panti asuhan dan hidupnya sendiri.
          “Rumah ini.. begitu suram ya.. tak seperti dulu lagi. Aku menjual perabotan rumah ini.. hanya untuk kebutuhan hidupku dan panti asuhan. Aku harus bekerja di empat tempat berbeda, itulah mengapa aku tak sekolah beberapa hari ini..” Ali mengambil nafas.
“Pagi hari, aku menjual Koran. Siang hari, aku bekerja di sebuah restoran sebagai seorang pelayan. Sore hari, aku bekerja sebagai pengantar pos. Dan malam hari, aku bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah warung kecil..” tambah Ali.
Aku takjub akan perbuatan Ali. Kami tak menyangka hidupnya akan sesengsara ini. Aku menatap nanar Ali. Tampak diraut wajahnya begitu banyak penderitaan. Apa salahnya sehingga dunia begitu kejam kepadanya? Batinku menangis.
          “Tak ada seorang pun yang peduli kepada aku dan ibuku. Aku bekerja juga untuk pengobatan ibuku. Tanteku terus memaksaku untuk mengambil ibuku dan merawat ibuku sendiri..” kata nya terputus. Ali menangis. Ali menghapus air matanya yang terjatuh. Untuk pertama kalinya aku dan Lia melihat seorang Ali menangis. “Gumpalan darah di kepala ibuku.. tumbuh lagi.. dan kondisi ibu semakin parah.. seandainya kejadian itu tak terjadi.. ayah pasti masih hidup dan ibu tak akan seperti ini. Ini semua salahku..” tangis Ali pecah. Ali sedikit terisak. Aku dan lia memeluk Ali. Pelukan hangat seorang sahabat.
          Kejadian itu. Dimana membuat hidup Ali berubah 180 derajat dari sebelumnya. Musibah yang membuat sayatan yang begitu dalam dan menyakitkan di hati Ali dan ibunya.
          Kecelakaan 3 tahun silam..
          Kecelakaan yang merenggut nyawa ayah Ali dan membuat kondisi ibu Ali menjadi cacat…
***

          “Ayah, ayah, ayah, ayah.. lihat ini..” kata seorang anak laki-laki kepada ayahnya yang sedang sibuk menyetir. “Ali, tenanglah sedikit. Ayah sedang menyetir” kata sang ayah dengan lembut memperingatkan anaknya. “Tidak mau! Ayah harus lihat ini. Nilai ulangan ku sangat baguskan ayah? Ayah coba lihat sebentar. Nilaiku sempurna, ayah” rengek anak laki-laki itu kepada ayahnya, Ali. “Ali, tenanglah sayang. Ayah sedang menyetir. Nanti saja ya” kata seorang wanita yang notabene adalah ibu Ali.
          “Tidak mau! Ali maunya ayah melihatnya sekarang” pinta Ali.
          “Baiklah, ayah akan melihatnya. Coba sini ayah lihat” ayah Ali pun mengulurkan tangan dan menoleh ke belakang, tempat anak nya itu duduk. Ali pun memberikan kertas ulangannya dengan senyum merekah di wajah nya. Ayah Ali masih sibuk melihat ke belakang sambil menyetir, hingga tak sadar ada sebuah truk besar dari arah berlawanan.
          “Ayaaaahhhh… awaaaasssss!!!!!” teriak ibu Ali menyadarkan suaminya. Ayah Ali menoleh ke depan dan berusaha mengendalikan kemudi setir mobil. Namun, kecelakaan tak dapat dihindarkan. Mobil Ali tak dapat menghindari truk dan terlempar ke jurang.
          Mobil Ali hancur tak berbentuk lagi. Kondisi ayah dan ibu Ali begitu mengenaskan. Mobil Ali terbalik dan menyebabkan Ali terlempar keluar dari mobil. Kondisi Ali baik-baik saja. Bahkan, setelah mobilnya terlempar ke jurang, Ali sempat tersadar dan mencoba untuk meminta bantuan. Sampai akhirnya, polisi dan ambulance datang untuk menolong.
          Ali hanya mendapat luka di bagian kepala, kaki dan tangan. Ibu Ali mengalami cedera dan patah tulang di beberapa bagian. Sedangkan ayah Ali sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
          Setelah sampai di rumah sakit, Ali dan ibunya langsung mendapat pertolongan medis. Dokter mengatakan bahwa, ibu Ali mengalami kelumpuhan dan terdapat gumpalan darah di kepalanya. Dan akhirnya, ibu Ali dioperasi dan menjalani masa pemulihan. Ali hanya luka ringan yang dapat disembuhkan. Dan betapa terkejutnya Ali ketika mengetahui ayahnya telah tiada. Ibu Ali hanya dapat terbaring lemah melihat jasad suaminya. Ali menjerit dan menangis sekuat-kuatnya.
          Saudara dan keluarga Ali yang datang, malah menyalahkan Ali atas kematian ayahnya. Ali merasa terpojok dan terpuruk. Hingga, setelah pemakaman ayahnya, Ali memutuskan untuk menitipkan ibunya kepada tantenya, di Bandung.
          “Tante, jaga ibu baik-baik. Aku akan mengirim uang untuk pengobatan ibu setiap bulannya. Terimakasih tante” tante Ali hanya diam dan menunjukkan muka tidak senangnya.
          “Ibu, Ali pergi dulu ya.. Ali akan cepat kembali. Ali menyayangi ibu..” ucap Ali untuk yang terakhir kalinya dan mencium kening ibu lembut. Ali lalu pergi dan meninggalkan ibu. Jika tidak menitipkan ibunya, Ali takut ibunya juga akan menyalahkannya atas kematian ayahnya. Ali akan mencoba memulai hidup mandiri dan bekerja keras…
***
         
          Aku dan Lia, masih memeluk Ali yang sedang menangis. Lia sudah ikut menangis sedari tadi. Aku hanya dapat terdiam dan merasa kasihan pada sahabat ku ini. Dibalik sosok Ali yang dingin dan cuek, terselip luka yang digoreskan amat mendalam.
          “Aku.. akan menjual rumah ini dan memebawa ibuku ke panti asuhan itu. Da, kami akan tinggal disana. Aku tak tahu… harus melanjutkan sekolahku atau tidak..” Ali terisak sambil terus menangis. “Aku tidak mempunyai biaya. Mungkin hasil penjualan rumah ini akan aku pergunakan untuk pengobatan ibu saja..” kata Ali sambil terus terisak.
          “Tidak Ali. Kamu tidak boleh putus sekolah. Kami akan membantumu. Tenanglah, Ali. Sekarang, aku minta kamu pikirkan saja pengobatan ibumu. Dan.. aku minta.. kamu harus berubah. Aku ingin kamu seperti Ali yang dulu. Ali yang ceria, Ali yang cerdas dan Ali yang selalu kami banggakan” kataku menghibur sembari tersenyum kepada Ali.
          Lia juga ikut tersenyum. Aku dan Lia bertatapan lalu mengangguk. Inilah gunanya sahabat. Selalu ada kapan pun kita butuhkan. Dan yang akan memikul beban bersama. Ali, kamu tidak akan sendirian.. batinku tersenyum.
          “Kalian.. begitu baik padaku. Terimakasih.. terimakasih sahabatku..” kata Ali sembari mengusap air matanya dan tersenyum. Senyuman itu kembali lagi. Senyuman yang telah lama hilang dari wajah seorang Ali. Senyuman kebahagian yang menghangatkan hati kami, sahabatnya. Aku pun membalas senyumannya.
***
Satu tahun kemudian…
          “Ayah.. Ali datang..” kata Ali sambil tersenyum. “Ayah, apa kabar? Ali datang bersama ibu. Kami sangat merindukan ayah. Kami disini baik-baik saja, yah..” Ali menghela nafas. “ Dulu.. ayah ingin Ali masuk sekolah favorite kan, yah? Sekarang Ali bersekolah disana, yah. Sekolah impian kita” Ali tersenyum disambut senyuman hangat dari sang ibu. “Maafin Ali, yah.. selama ini Ali tidak bisa menjaga ibu dengan baik. Tapi Ali janji, akan membuat ibu selalu tersenyum…” ibu Ali yang sedang duduk di kursi roda, mengelus kepala Ali dengan lembut.
          “Aliiiii….” Panggilku dan Lia yang disambut lambaian tangan Ali dan senyuman kas Ali dan ibunya. “Apakah sudah siap? Hari sudah semakin gelap” kata Lia kepada Ali dan ibunya.
          “Baiklah..” jawab Ali. “Ayah.. Ali dan ibu pulang dulu ya.. Ali janji akan selalu mengunjungi ayah.. sampai jumpa, ayah..” kata Ali kepada sebuah batu nisan. Nisan ayahnya. Kami pun beranjak pulang dari pemakaman.
          Semenjak kejadian malam itu, Ali berubah kembali menjadi Ali yang dulu. Sekarang, Ali dapat melupakan keterpurukannya. Dan, Ali pun menepati janjinya.
          Kami akan selalu bersama.. di sisi Ali. Dan dibalik sosoknya selama ini.. dia tetap seorang Ali..

~SELESAI~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar